Psikolog Cikal Jelaskan Alasan Anak SD Tetap Harus Didampingi Saat Bermain Game Online

Alasan Anak SD Tetap Harus Didampingi Saat Bermain Game Online

Durasi Waktu Baca : 3 Menit



Keypoints:

  • Psikolog Cikal menekankan pentingnya pengawasan secara atentif dari orang tua untuk anak-anak di usia tahap perkembangan SD dalam bermain game.

  • Kondisi penalaran kritis dan moral anak SD masih berkembang sehingga masih kesulitan membedakan perilaku yang tepat dilakukan di dunia nyata dengan di dunia virtual.

  • Anak-anak yang masih di jenjang SD harus tetap mendapatkan pengawasan, refleksi, dan komunikasi yang aktif dengan orang tua ketika mereka bermain game di platform digital atau mengakses gawai.




Jakarta, Sekolah Cikal Lebak Bulus. Bermain game sesuai usia anak itu penting. Itulah yang ditekankan oleh Rahma Dianti, M.Psi.,Psikolog (Psikolog dan Konselor Sekolah Cikal Lebak Bulus) ketika membahas mengenai pemilihan game pada anak.  Tetapi, apakah orang tua masih perlu memberikan pendampingan anak secara atentif saat bermain game? Jawaban dari Psikolog Rahma adalah harus. 


Di tahap perkembangan anak yang masih berada di jenjang usia dini dari PAUD, TK hingga SD, orang tua secara atentif mengawasi karena bagi anak-anak yang berada di tahap perkembangan diri, kemampuan otak mereka dan penalaran kritis akan hal yang yang boleh dan tidak boleh, hal-hal yang benar dan salah masih perlu didampingi.


Seperti apa penjelasan dari Psikolog Rahma? Selengkapnya berikut ini.




Penalaran Moral dan Kritis Anak SD Masih Berkembang 


Psikolog dan Konselor Sekolah Cikal Lebak Bulus, Rahma Dianti, M.Psi.,Psikolog  menyatakan bahwa anak-anak yang berada di jenjang SD masih dalam tahap perkembangan kemampuan otak dalam penalaran dan pemikiran kritis akan hal yang benar dan salah. Oleh karena itu, pendampingan orang tua secara atentif harus tetap diterapkan secara berkelanjutan bila anak bermain game.

“Pada anak-anak usia dini, terutama yang masih berada di usia SD, kemampuan otak mereka belum cukup berkembang untuk bisa melakukan pemikiran yang kritis dan penalaran terhadap moral serta hal-hal yang benar dan salah. Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap fungsi kognitif yang lebih tinggi seperti kendali dorongan, fleksibilitas berpikir, penyelesaian masalah, penalaran, pemikiran abstrak dan kritis, dan lain-lainnya, mulai berkembang secara efektif dan efisien ketika anak-anak memasuki masa remaja, hingga usia dewasa awal.” jelasnya. 

Baca Juga : Alisha, Murid SD Cikal Lebak Bulus, Raih 5 Medali Kejuaraan Gymnastic Nasional dan Internasional




Melindungi Anak Dari Risiko Tersembunyi

Dengan masih berkembangnya penalaran kritis anak di masa SD, maka pendampingan akan diperlukan guna dapat melindungi diri anak dari risiko dari game, seperti isi konten, pola perilaku, dan media yang digunakan oleh anak. 

“Pada anak-anak yang masih berusia dini, mereka masih mengalami kesulitan untuk bisa membedakan perilaku yang tepat dilakukan di dunia nyata dengan di dunia virtual, terutama jika mereka terpapar oleh media yang menampilkan perilaku kekerasan atau perilaku lainnya yang belum sesuai dengan usia mereka. Oleh karena itu, anak-anak yang masih di jenjang SD harus tetap mendapatkan pengawasan, refleksi, dan komunikasi yang aktif dengan orang tua ketika mereka bermain game di platform digital atau mengakses gadget.” imbuhnya. 

Baca Juga : Psikolog Tari Sandjojo Beri Pandangan Tentang Wacana Pembelajaran Matematika Sejak TK




Informasi Cikal Support Center


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs 




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Rahma Dianti, M.Psi., Psikolog (Psikolog dan Konselor SMP Cikal Lebak Bulus)

  • Editor: Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED