Durasi Waktu Baca : 3 Menit Surabaya, Sekolah Cikal Surabaya. Indonesia patut berbahagia karena pelajar kelas 5 SD Cikal Surabaya bernama Atharizi berhasil meraih medali perak di final International Mathematics Contest (IMC) di Singapura pada Agustus 2025. Di kompetisi yang diikuti oleh 623 peserta dari 9 Negara yakni China, Macau, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Taiwan, dan Vietnam, Atharizi dengan percaya diri mewakili Indonesia memecahkan soal-soal Matematika. Bagaimana opini Atharizi tentang Matematika dan perasaannya meraih prestasi atas kegigihannya? Simak ceritanya berikut. Saat berbincang dengan Atharizi yang telah kembali ke Indonesia, ia mengungkapkan bahwa Matematika bukanlah sesuatu yang menakutkan. Baginya, Matematika adalah hal yang menarik karena banyak ragam dan bentuk, serta bisa mengasah kemampuannya berpikir logis. “Soal Matematika itu membuat aku bisa berpikir mengunakan logika dan biarpun sulit pasti ada caranya dan itu menarik jika sudah ketemu cara menyelesaikannya ada perasaan menyenangkan dan bila belum ketemu suka penasaran untuk cari caranya. Matematika itu menarik banyak ragamnya bisa dalam permainan juga.” ucapnya dengan sukacita. Ibunda Atharizi, Breyliana atau Ire mengungkapkan bahwa ketertarikan Atharizi terhadap Matematika telah terbangun sejak TK. Ia mulai belajar Matematika dengan cara bermain, sehingga lebih cepat memahami angka dan konsep Matematika. “Ketertarikan Atharizi di Matematika terlihat mulai dari TK. Saat itu ia belajar dengan metode permainan dan sangat cepat mengenal angka dan cepat memahami konsep penjumlahan dan pengurangan. Lalu, ia tertarik melihat video dengan yang berkaitan dengan permainan atau simulasi matematika sesuai usianya.” ucapnya. Ia jugamenambahkan bahwa di Cikal Surabaya program yang ia sukai dalam belajar adalah Matematika. “Saat ini di sekolah yang menjadi pelajaran favoritnya Atharizi adalah matematika karena ia merasa dengan mengerjakan soal Matematika dia bisa menggunakan logika berpikirnya secara maksimal.” tambahnya. Baca Juga : Dinar, Murid SMA Cikal Surabaya, Wakili Suara Alam Melalui Esai Lingkungan Sebagai pelajar SD Cikal Surabaya yang aktif mengasah kemampuan diri di bidang Matematika, ia mengungkapkan bahwa kompetisi International Mathematics Contest (IMC) di Singapura pada Agustus lalu bukanlah kompetisi pertama. Sampai hari ini telah ada 5 Kompetisi Matematika Nasional dan Internasional yang ia ikuti. “Kompetisi IMC bukan yang pertama. Aku pernah ikut World Mathematics and Science Competition (WMSC) dapat merit award, International Kangaroo Mathematics Contest (IKMC) dapat silver dan gold medal, Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) aku jadi Finalis, International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) sampai semifinal, dan International Talent Mathematics Contest (ITMC).” ceritanya. Baca Juga : Cerita Titis, Murid SMP Cikal Surabaya, Atlet Berkuda Muda yang Cetak Juara Nasional! Atharizi mengungkapkan bahwa pada awalnya ia hanya berharap bisa meraih medali Perunggu untuk Indonesia di kompetisi Matematika Internasional yang diikuti 623 pelajar dari 9 negara tersebut.. Namun, dengan kesungguhan yang ia telah buktikan, Atharizi pun terkejut saat tahu ia berhasil meraih medali perak. “Untuk IMC aku latihan soal-soal tahun sebelumnya dan diskusi soal-soal dengan guru atau ikut pelatihan persiapan lomba. Aku sangat senang karena tadinya target aku hanya dapat bronze, tapi ternyata bisa dapat silver medal.”ungkapnya. Baca Juga : Cerita Noya, Murid SMP Cikal Surabaya, Peraih Belasan Prestasi Sepatu Roda Tingkat Nasional Di SD Cikal Surabaya, pendekatan belajar Matematika bagi Atharizi selalu menyenangkan. Menurutnya cara belajar Matematika di SD Cikal Surabaya selalu dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari. Jadi, lebih mudah dipahami dan diterapkan. “Belajar matematika di Cikal Surabaya diajarin cara-caranya, lalu diaplikasi dalam soal-soal yang ada dalam kehidupan sehari-hari atau bisa dalam bentuk game secara individu atau kelompok. Aku jadi lebih komunikatif dan kooperatif.” ceritanya. Bagi Atharizi cara belajar yang diajarkan oleh Cikal membuatnya menumbuhkan kepercayaan diri dan mengelola rasa takut. Ia bahkan belajar untuk membuat prioritas berdasarkan hal yang bisa ia kerjakan lebih dahulu secara bijaksana. “Rasa takut nantinya tidak bisa menjawab soal selalu ada. Tapi saat mulai mengerjakan soal, aku berusaha fokus sama soal-soal yang bisa dikerjakan lebih dulu karena setiap ada soal yang bisa dikerjakan akan timbul rasa percaya diri sehingga makin mengurasi rasa takut itu.” ucapnya. Menurut Ibunda Atharizi, di SD Cikal Surabaya pendampingan belajar yang dilakukan secara personalisasi telah berlangsung dengan cukup baik. Ia menekankan pada adanya komunikasi yang senantiasa berkesinambungan, sehingga kompetensi diri dari Atharizi baik itu komitmen, cerdas, sehat, reflektif dan berpikiran terbuka berkembang dengan baik. “Proses pendampingan belajar di Cikal Surabaya cukup baik, karena anak-anak dilihat secara individu memiliki kompetensi yang berbeda sehingga pendekatan belajarnya juga berbeda. Untuk kompetensi yang sudah berkembang saat ini dari Atharizi bagi kami adalah berkomitmen, cerdas, sehat, reflektif, dan berpikiran terbuka.” imbuhnya. (*) Baca Juga : Boys Talk-Girls Talk, Cara Sekolah Cikal Kenalkan Pendidikan Seks pada Anak Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal Narasumber : Atharizi, Murid SD Cikal Surabaya & peraih medali Perak International Mathematics Contest 9 Negara. Breyliana atau Ire, Ibunda Atharizi. Editor : Layla Ali Umar Penulis : Salsabila FitrianaMatematika itu Menarik dan Asah Logika
Bukan Kompetisi Internasional Pertama
Medali Perak untuk Indonesia di IMC 2025
Cara Belajar Matematika di SD Cikal Surabaya
Informasi Cikal Support Center