Durasi Waktu Baca : 4 Menit
Tangerang, SD Cikal Serpong. SD Cikal Serpong kembali melahirkan sosok-sosok murid inspiratif yang menggerakkan aksi baik bagi sesama manusia melalui sebuah buku dan aksi pengumpulan donasi yang mengarah kepada kebermanfaatan sesama melalui Yayasan Kanker Pita Kuning.
Aksi baik dan inspiratif kali ini hadir dari dua murid SD Cikal Serpong yakni Lea dan Aksara. mereka menciptakan karya buku bertajuk Self-Love pada momen Culminating Project kelas 6 SD yang merupakan proyek akhir individual yang dikerjakan murid SD sebagai puncak pembelajaran untuk menunjukkan pemahaman, kompetensi, dan hasil riset mendalam atas isu kontemporer. Proyek ini menekankan pada pengembangan gagasan kreatif, reflektif, inovatif, dan berdampak sosial sesuai minat murid.
Di Culminating Project, Lea menciptakan buku berjudul “My Own Special Crown”, sedangkan Aksara menciptakan Trilogi Buku yang judulnya antara lain, “Beyond The Filter, Skincare Decoded, dan Parents and Guardians”. Dari karya buku yang diciptakan oleh keduanya, hasil penjualan buku yang didonasikan kepada Yayasan Kanker Pita Kuning mencapai 15 Juta. (Aksara dan Lea, dua murid SD Cikal Serpong, ciptakan buku dan gerakkan aksi donasi untuk yayasan kanker dari hasil jual buku. Dok.Cikal) Apa yang mendorong Lea dan Aksara memiliki motivasi internal yang kuat untuk menciptakan karya dan mendedikasikan hasil dari buku mereka untuk Yayasan Kanker Pita Kuning? Bagaimana pula pendampingan dari Sekolah Cikal dalam hal ini melalui pendidik atau mentor guru dari SD Cikal Serpong? Simak cerita lengkapnya di bawah ini!
Dian Nurmala, Pendidik SD Cikal Serpong yang juga merupakan mentor dari Lea dan Aksara, mengungkapkan bahwa inisiatif karya buku yang diciptakan oleh Lea dan Aksara bermula dari Culminating Project kelas 6 SD Cikal Serpong. Proyek akhir bagi murid SD Cikal Serpong, tambah Dian, merupakan ruang bagi murid melihat dunia dan mengekspresikan gagasan dengan lebih jujur sebagaimana yang dilakukan Lea dan Aksara. “Proyek Lea dan Aksara berangkat dari Culminating Project murid kelas 6 di SD Cikal Serpong. Namun bagi saya, ini bukan sekadar tugas akhir ini adalah ruang di mana anak-anak belajar melihat dunia dengan lebih jujur. Dalam prosesnya, setiap murid diajak untuk berhenti sejenak, mengamati sekelilingnya, lalu bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan mengapa itu penting untukku? Dari situ, mereka tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga mencoba memahami makna di baliknya, sebelum akhirnya mencari kemungkinan solusi.” jelasnya. Baca Juga: Lea menceritakan bahwa misi personal dari proses menghadirkan karya “My Own Special Crown” berangkat dari pengalaman pribadinya yang menceritakan proses pembentukan kepercayaan pada diri sendiri, khususnya pada penerimaan memiliki keunikan diri rambut keriting yang dimilikinya. “Buku saya membahas tentang rasa suka terhadap diri sendiri dan juga rasa tidak percaya diri pada anak-anak yang memiliki rambut keriting. Banyak orang sering salah paham dan menilai rambut keriting secara negatif. Melalui buku ini, saya ingin membantu pembaca agar bisa lebih percaya diri dan menerima diri mereka apa adanya.” ucapnya. Selain Lea, Aksara juga turut menceritakan bahwa trilogi buku yang ia buat, “Beyond The Filter, Skincare Decoded, dan Parents and Guardians” menyisipkan misi personalnya yakni ingin membuat orang lain lebih percaya pada diri sendiri. Ia juga menceritakan setiap buku dari triloginya lekat dengan isu di kehidupan remaja, dari skincare, sosial media, hingga komentar dalam keseharian. “Buku pertama membahas tentang masalah dan miskonsepsi tentang skincare pada anak-anak yang memulai pubertas. Buku kedua membahas masalah sosial media dan hoax di internet yang suka membuat remaja-remaja merasa tak percaya diri karena penggunaan filter dan beauty enhancer. Buku ketiga membahas masalah komen-komen meremehkan dari Ibu kepada anak, selain dari itu bukunya juga menjelaskan cara agar orang tua bisa lebih dekat dan positif. Aku sangat ingin membuat orang lain lebih percaya diri, terutama remaja dan anak-anak.” ceritanya lengkap. Sebagai Mentor, Dian menuturkan bahwa karya yang bertemakan “Self-Love” yang dibuat Aksara dan Lea bukan hanya tentang pemilihan topik yang lekat dengan mereka, melainkan juga tentang keberanian untuk jujur pada pengalaman diri dan menyuarakannya untuk membawa perubahan. Ia juga menegaskan bahwa dari karya tersebut Aksara dan Lea berhasil belajar tentang posisi mereka sebagai manusia yang memiliki kemampuan dan suara untuk menggerakkan perubahan. “Aksara dan Lea memilih berjalan lebih dalam ke isu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: tentang beauty standard. Bagi saya, pilihan mereka bukan hanya tentang topik, tetapi tentang keberanian. Keberanian untuk jujur pada pengalaman sendiri, dan keberanian untuk menyuarakannya. Dan mungkin disitulah letak pembelajaran yang paling bermakna ketika anak-anak tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar memahami posisi mereka di dalamnya, lalu perlahan menyadari bahwa suara mereka bisa membawa perubahan.” tambahnya. Baca Juga : Perlukah Care Giver ABK Diberikan Pelatihan di Sekolah Inklusif? Ini Pandangan Ahli dari Cikal Sebagai pelajar SD yang akan menuju jenjang pendidikan menengah pertama, Lea dan Aksara tak hanya menciptakan karya sejak dini, melainkan juga menguatkan komitmen untuk berdaya bagi sesama dengan memilih hasil penjualan bukunya diberikan kepada Yayasan Kanker Pita Kuning. Lea mengungkapkan bahwa ia melakukan aksi donasi untuk menunjukkan kehadirannya dan dukungannya pada anak-anak atau teman sebayanya agar tidak merasa sendiri. “Saya memilih berdonasi ke Yayasan Pita Kuning karena saya ingin membantu anak-anak yang sedang berjuang melawan kanker. Saya ingin mereka tahu bahwa mereka tetap cantik dan berharga, walaupun tubuh mereka mengalami perubahan. Saya juga ingin mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian.” tuturnya. Tak hanya Lea, Aksara juga menuturkan bahwa pemberian donasi dari karya bukunya adalah bentuk dukungan pemberian semangat dan rasa percaya diri kepada teman-teman dan anak-anak yang mungkin sudah tidak percaya diri. “Aku dan mentorku memilih Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia karena mereka yayasan kanker yang memiliki banyak anak yang mungkin sudah tidak percaya diri karena perubahan tubuh cepat karena chemotherapy. Aku harap donasinya bisa membuat mereka mendapatkan treatment lebih banyak dan cepat agar bisa segera pulih dan sehat.” ucapnya. Sebagai Mentor, Dian menceritakan bahwa aksi baik yang dilakukan oleh Lea dan Aksara murni dari misi mereka. Ia menuturkan bahwa apa yang dilakukan oleh Lea dan Aksara bukan hanya sekadar proyek, tetapi bentuk kepedulian nyata dari anak-anak. “Ide untuk berdonasi datang dari anak-anak. Mereka tidak ingin berhenti di cerita, mereka ingin cerita itu berdampak. Kami kemudian bersama-sama mencari lembaga yang selaras dengan nilai dan pesan yang mereka angkat. Prosesnya sederhana, tapi penuh makna: menulis, menghubungi, menunggu, dan berharap. Ketika Yayasan Pita Kuning merespons, yang terasa bukan hanya persetujuan, tetapi sambutan terhadap ketulusan. Mereka melihat bahwa ini bukan sekadar proyek, tetapi bentuk kepedulian yang nyata dari anak-anak. Dan bagi saya, itu adalah momen penting ketika anak-anak menyadari bahwa tindakan kecil mereka benar-benar bisa sampai dan berarti bagi orang lain.” jelasnya. Baca Juga : Cerita Audrey, Desainer Muda SD Cikal Serpong, Belajar Kelola Emosi Lewat Menggambar! Aksi baik yang dilakukan oleh Lea dan Aksara didampingi oleh Mentor Guru adalah bukti cerminan dari gambaran proses belajar di Cikal yang menerapkan 5 Cara yakni Memanusiakan Hubungan, Memahami Konsep, Memilih Tantangan, Memberdayakan Konteks, dan Membangun Keberlanjutan. Kelima cara ini juga merupakan langkah untuk membentuk anak menjadi manusia yang selalu reflektif dan peduli terhadap sesama. Dian menuturkan bahwa Lea dan Aksara adalah cerminan dari dua murid SD Cikal yang tumbuh dari proses belajar dan proses bertumbuh yang didampingi dan dirawat. “Lea dan Aksara tidak tiba-tiba menjadi anak yang berani menulis dan berdampak. Mereka tumbuh dari proses kecil yang terus dirawat: belajar mendengar diri sendiri, belajar tidak menyangkal pengalaman pribadi, dan belajar bahwa suara mereka sekecil apa pun layak untuk didengar.” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa di SD Cikal, setiap anak dibiasakan untuk belajar dari konteks nyata dunia dan sekitarnya, bukan tentang apa yang ingin dicapai, melainkan apa yang dirasakan dan dilihat dari sekitar. Itulah yang tercermin dari aksi Lea dan Aksara. “Di kelas, saya tidak pernah memulai dari “apa yang harus kamu capai”, tetapi dari “apa yang kamu rasakan” dan “apa yang kamu lihat di sekitarmu”. Karena dari sanalah keberanian itu lahir bukan dari teori, tapi dari kesadaran bahwa dunia ini nyata, dan mereka punya tempat di dalamnya.” Kami juga membiasakan anak untuk tidak berhenti di “aku tahu”, tetapi bergerak ke “aku peduli” dan akhirnya “aku melakukan sesuatu”. Dari sinilah mereka mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang bagaimana kehadiran kita bisa berarti bagi orang lain. Lea dan Aksara adalah bukti kecil dari proses itu. Bukan hasil akhir, tapi perjalanan yang terus berjalan. Dan bagi saya, itu jauh lebih berharga.” imbuhnya. (*) Baca Juga : Cerita Bhanu, Murid SMP Cikal Serpong, Aktif dan Berprestasi di Bidang Matematika dan Olahraga Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal Narasumber : Dian Nurmala, Pendidik SD Cikal Serpong dan Mentor Lea-Aksara Lea, Murid Cikal Serpong Aksara, Murid Cikal Serpong Editor : Layla Ali Umar Penulis : Salsabila FitrianaProyek Individual Anak, Cara Anak Melihat Dunia Lebih Jujur
Karya Buku Bertemakan “Self-Love”, Bukti Keberanian Bersuara
Donasi ke Yayasan Kanker, Bentuk Nyata Kepedulian Anak
Proses Belajar di SD Cikal Serpong Berangkat dari Konteks Nyata Dunia
Informasi Cikal Support Center