Durasi Waktu Baca : 3 Menit Jakarta, SD Cikal Lebak Bulus. SD Cikal Lebak Bulus menghadirkan pendekatan kontekstual dan bertahap dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab, kemandirian, komitmen dalam melakukan rutinitas di lini Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus untuk murid dengan kebutuhan khusus, salah satunya adalah dengan mengajak murid dengan kebutuhan khusus merawat tanaman sebagai bagian dari program belajar Sains (Taking Care of Plants) pada November 2025. Apa saja sebetulnya makna dan pengaruh membangun rutinitas merawat tanaman, khususnya bagi anak dengan autisme dan anak dengan ADHD? Simak gambarannya berikut ini! Muhamad Tanzi, Homeroom Kelas 2 Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus, mengungkapkan bahwa kegiatan merawat tanaman merupakan kegiatan yang memiliki 3 tujuan, antara lain sebagai berikut: Tujuan pertama menurut Tanzi dari kegiatan menanam dan merawat tanaman ini adalah menumbuhkan dan mengoptimalkan rasa tanggung jawab dalam diri murid dengan kebutuhan khusus. “Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak melalui pengalaman merawat tanaman. Melalui kegiatan yang terstruktur, anak diharapkan mampu memahami bahwa setiap tindakan yang murid dengan kebutuhan khusus lakukan (seperti menyiram, memberi cahaya, atau menjaga kebersihan area tanaman), memiliki dampak terhadap kehidupan tanaman.” ujarnya. Tujuan kedua dari kegiatan merawat tanaman adalah menumbuhkan pemahaman dan pembiasaan bagi murid dengan kebutuhan khusus untuk mengenal arti komitmen dan konsistensi dalam bentuk aksi. “Melalui kegiatan ini pula, anak dapat belajar bahwa menjaga dan merawat sesuatu membutuhkan komitmen dan konsistensi. Selain itu, pembelajaran ini juga membantu anak menunjukkan tanggung jawab dalam bekerja sama, mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas sampai selesai, serta merawat alat dan lingkungan sekitar selama proses berlangsung.” jelasnya. Tujuan ketiga yang diceritakan oleh Tanzi adalah melatih dan mengoptimalkan regulasi diri, kemampuan bahasa, hingga keterampilan sosial murid dengan kebutuhan khusus di kelas 2 SD Cikal Lebak Bulus “kegiatan taking care of plants tidak hanya mengembangkan fokus saja, akan tetapi area perkembangan lain juga dapat dioptimalkan, seperti melatih regulasi diri, motorik halus, kemampuan bahasa, dan membangun rutinitas. Anak-anak berkebutuhan khusus perlu diberikan kegiatan semacam ini karena melalui kegiatan ini anak juga dapat mengembangkan kepercayaan diri, rasa kepemilikan (sense of belonging), dan juga keterampilan sosial. “ ujarnya. Baca Juga : Latih Kelola Emosi dan Fokus, Murid Kebutuhan Khusus SD Cikal Lebak Bulus Unjuk Keterampilan Merawat Hewan Sebagai pendidik di Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus yang mendampingi proses pengembangan diri dan pembelajaran murid dengan Autisme dan ADHD, Tanzi menjelaskan bahwa kegiatan merawat tanaman bagi murid dengan kebutuhan khusus merupakan kegiatan yang dalam praktiknya mengintegrasikan beberapa program belajar murid dengan kebutuhan khusus, seperti Science Functional, Language Functional, Social Studies Functional dan Self-Awareness. Semua program yang diintegrasikan tersebut memiliki tujuan pembelajaran yang fokusnya mengoptimalkan keterampilan diri murid dengan kebutuhan khusus, dari membiasakan murid dengan kebutuhan khusus memiliki tanggung jawab akan perannya, membangun komunikasi, dan beradaptasi. “Taking Care of Plants merupakan kegiatan yang mengintergasi beberapa program, antara lain Science Functional, Language Functional, Social Studies Functional, dan juga Self-Awareness. Dari sisi languages functional, anak-anak dapat belajar bagaimana terlibat dalam percakapan dua arah dengan terlibat pada benda-benda atau hal-hal yang ditunjukkan atau dibicarakan oleh guru atau orang lain. Pada social studies, murid dapat mengetahui peran masing-masing, bekerja sama, dan dapat menceritakan kembali setiap kejadian yang telah dilakukan. Kemudian, pada program self-awareness, kami melihat bagaimana anak-anak dapat melakukan kegiatan dengan penuh kesadaran diri dan dapat beradaptasi pada situasi yang berubah.” jelasnya. Baca Juga : Sekolah Cikal Bagikan Praktik Baik dalam Pendidikan Inklusi di SPEKIX 2025 Kegiatan menanam dan merawat tanaman bukanlah kegiatan yang sederhana, melainkan kegiatan yang penuh makna, karena di dalamnya, bagi Tanzi, terdapat proses pengembangan diri, perubahan perilaku, dan optimalisasi proses belajar serta berkembangnya karakter dari setiap murid dengan kebutuhan khusus dengan fasenya masing-masing, dari setiap momen yang terjadi, baik dari momen menyentuh tanah, menyiram, dan lainnya. “Selama menjalankan kegiatan menanam hingga merawat tanaman, saya melihat banyak keunikan dari setiap anak. Ada yang langsung antusias menyentuh tanah dan menyiram, ada yang perlu waktu lebih lama karena merasa tidak nyaman atau takut kotor karena diduga ada permasalahan sensori. Bagi saya sebagai guru, ini menjadi langkah untuk memahami pola belajar masing-masing anak. Saya perlu menyeimbangkan antara memberi arahan, mendampingi, dan tetap memberikan kesempatan bagi murid dengan kebutuhan khusus untuk mencoba sendiri tanpa merasa tertekan.” jelasnya. Perkembangan yang konkret bagi Tanzi terlihat dari perubahan perilaku murid dengan kebutuhan khusus yang berani mencoba tantangannya, dari menunggu giliran bergantian menyiram, mempertahankan fokus, dan berani mengikuti kegiatan secara berurutan sesuai instruksi. “Bagi anak-anak, tantangan terbesarnya ada pada menghadapi hal-hal baru. Mulai dari mengikuti langkah yang berurutan, menunggu giliran, hingga bertahan fokus sampai kegiatan selesai. Tapi justru dari tantangan itu saya melihat perkembangan yang konkret, anak yang awalnya enggan menyentuh tanah mulai berani mencoba, dan anak yang biasanya sulit bercerita atau bercerita tidak sesuai konteks akhirnya mampu menjelaskan kegiatan murid dengan kebutuhan khusus saat setelah kegiatan selesai.” tambahnya. Ukuran keberhasilan pembelajaran dan pengembangan diri murid dalam kegiatan ini direfleksikan oleh Tanzi sebagai pendidik melalui perubahan perilaku dan proses yang direfleksikan dalam catatan pengembangan diri murid dengan kebutuhan khusus. “Keberhasilan murid dalam kegiatan ini saya ukur melalui perubahan perilaku dan proses. Saya melihat bagaimana murid dengan kebutuhan khusus semakin berani mencoba hal baru, lebih fokus mengikuti urutan kegiatan, mulai bisa menunggu giliran, atau lebih mampu menceritakan apa yang murid dengan kebutuhan khusus lakukan. Ketika anak mulai menunjukkan inisiatif seperti menyiram tanaman tanpa diminta, menjaga alat tetap rapi, atau menggunakan bahasa yang dipelajari dalam situasi lain, saya tahu bahwa perkembangan itu nyata dan sudah terbawa ke keseharian murid dengan kebutuhan khusus. Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa proses kecil seperti ini sangat berarti untuk membangun keberanian, kemandirian, rasa percaya diri, dan tanggung jawab murid dengan kebutuhan khusus.”ungkapnya. Baca Juga: SD Cikal Bandung Beri Tantangan Anak Belajar Jadi Konten Kreator Bijak Kegiatan bersama dalam menanam dan merawat tanaman, menurut Tanzi, secara tidak langsung menjadi sebuah pondasi pengembangan diri murid dengan kebutuhan khusus, karena dari kegiatan ini, murid-murid secara bertahap belajar untuk menjadi pribadi yang dapat bekerja sama, komunikatif, berimbang, dan reflektif bila dijalankan secara berkala dan dipraktikkan dalam keseharian tak hanya di sekolah. “Kegiatan taking care of plants membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus membangun keterampilan hidup yang benar-benar murid dengan kebutuhan khusus perlukan di dunia nyata. Dari rutinitas sederhana seperti menyiram atau menjaga kebersihan area taman, murid dengan kebutuhan khusus belajar tentang tanggung jawab, konsistensi, memahami sebab-akibat, serta bagaimana menyelesaikan tugas sampai selesai. Di saat yang sama, murid dengan kebutuhan khusus mengembangkan keterampilan sosial-emosi seperti mengatur emosi, bekerja sama, berani mencoba hal baru, dan membangun kepercayaan diri melalui pengalaman belajar. Hal tersebut menjadi pondasi yang mendukung murid dengan kebutuhan khusus untuk thriving for life, menjadi anak yang lebih mandiri, adaptif, dan siap menghadapi berbagai situasi di luar sekolah.” imbuhnya.(*) Baca Juga : 4 Penulis Sekolah Cikal dan Pengalamannya di Festival Literasi Karya Raya 2025 Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal Narasumber : Muhamad Tanzi, Pendidik di Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus. Editor : Layla Ali Umar Penulis : Salsabila FitrianaTujuan Kegiatan Merawat Tanaman bagi ABK
Tumbuhkan rasa tanggung jawab ABK di kegiatan yang terstruktur dan berulang
Belajar arti komitmen dan konsistensi dalam proses
Latihan Regulasi Diri dan Keterampilan Sosial ABK
Integrasi Program Belajar Murid dengan Kebutuhan Khusus
Keberhasilan Belajar dari Perubahan Perilaku dan Proses Reflektif ABK
Kompetensi Sederhana Optimalkan Pengembangan Diri ABK
Informasi Cikal Support Center