Hindari Miskonsepsi Tentang Sekolah Inklusi, Berikut 4 Aspek Esensial Sekolah Inklusi Menurut Pendidikan Inklusi Cikal

Jakarta, Pendidikan Inklusi Cikal. Memahami pentingnya nilai-nilai sekolah inklusi bagi anak berkebutuhan khusus perlu ditingkatkan di kalangan masyarakat. Mengingat masih banyak miskonsepsi mengenai sekolah inklusi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.


Sebagai pendidik anak berkebutuhan khusus di Pendidikan Inklusi Cikal, Novia Anggraeni Iskandar atau yang akrab disapa Novia, menekankan beberapa poin penting yang perlu diketahui masyarakat Indonesia tentang sekolah inklusi.


Empat Aspek Esensial Sekolah Inklusi


Menurut Novia, terdapat empat aspek utama dan esensial yang perlu diketahui oleh publik dengan baik terkait Sekolah Inklusi yang dalam hal ini telah diterapkan di Cikal, sebagai lembaga pendidikan bersifat kompetensi dan inklusif, serta sebagai komunitas pelajar sepanjang hayat.


“Sekolah Inklusi itu hakikatnya adalah tentang: pertama, merayakan keberagaman setiap anak dengan keunikannya. Kedua, menguntungkan semua murid. Ketiga, mengakomodasi murid-murid di sekolah yang mungkin merasa terpinggirkan dan belum optimal pengembangan kompetensinya, dan terakhir, menyediakan akses pendidikan yang setara untuk semua murid tanpa pengecualian.” tegasnya dalam sesi webinar mengenai pendidikan inklusi.


Ia pun juga menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia masih menghadapi miskonsepsi mengenai pendidikan Inklusi.


“Sayangnya di masyarakat kita masih banyak miskonsepsi mengenai sekolah inklusi, misalnya sekolah inklusi itu hanya pembaruan pendidikan khusus; hanya merespon terhadap keberagaman, dan hanya memenuhi kebutuhan murid dengan kebutuhan khusus atau disabilitas mengorbankan kebutuhan murid lain untuk satu murid.” jelasnya.


Penerapan Nilai Inklusif di Sekolah


Menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif, menurut Novia, dapat diterapkan dalam tiga lini, baik di bidang akademik, sosial, dan pendukung lainnya sebagaimana Pendidikan Inklusi Cikal menerapkannya di Sekolah Cikal dan PAUD Rumah Main Cikal.

“Dalam bidang akademik, menerapkan diferensiasi kurikulum menawarkan pilihan tugas atau cara belajar berbeda, Individualized Education Program (IEP) atau Program Pengembangan Individu (PPI), aksesibilitas ke sumber belajar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berfokus kepada kekuatan dan tantangan yang dialami, bukan pada label psikologis atau medis.” tutur Novia yang telah berdedikasi di Pendidikan Inklusi Cikal selama 4 tahun.

Novia memberikan rekomendasi dalam lini sosial untuk menghapus perisakan atau perundungan dengan menghadirkan kolaborasi di antara dua individu dalam satu tim untuk penyelesaian tantangan pembelajaran (buddy system), menghapus penggunaan label pada murid, dapat bermain dengan murid, melibatkan murid dalam membuat kesepakatan, murid yang berisiko mengalami eksklusi menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan murid sebaya.

“Selain dari sisi akademik dan sosial, setiap sekolah yang ingin menerapkan nilai-nilai inklusif juga dapat memperhatikan beberapa pendukung lainnya, misalnya menghadirkan guru/ahli pendidikan khusus, Special Educational Needs Coordinator (SENCo) atau koordinator Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, menghadirkan lokakarya atau pelatihan pendidikan inklusif bagi guru-guru, menggunakan teknologi asistif (teknologi yang dibuat secara khusus untuk memperbaiki atau mempertahankan kemampuan fungsional anak berkebutuhan khusus), membangun alur komunikasi yang efektif antar komunitas sekolah bekerja sama dengan pusat sumber aksesibilitas lingkungan fisik sekolah komunitas sekolah yang dinamis dan responsif.” ujarnya.


Dalam pendidikan Inklusi Cikal yang diterapkan sejak usia dini hingga di tingkat SMA, Cikal percaya bahwa semua anak harus belajar di tempat yang sama, menekankan kepada keadilan dan merangkul semua anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. (*)

I'M INTERESTED