Riset soal Pendidikan, Mahasiswi Prancis berkunjung ke Sekolah Cikal

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Mahasiswi Asal Prancis, Inès Plessis Ouzariah melakukan kunjungan penelitian ke Sekolah Cikal Cilandak pada 10-14 Februari 2020. Dalam kunjungannya, Ia melakukan serangkaian pengamatan terhadap praktik pembelajaran berbasis kompetensi dan karakter di kelas, pendekatan pembelajaran secara personalisasi, dan strategi pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru di Sekolah Cikal.

Travelling, mengenal pendekatan pendidikan di dunia

Tertarik di dunia pendidikan, Inès telah mendedikasikan waktunya menjadi pengajar bagi keluarga kerajaan dan pengajar anak berkebutuhan khusus di sela-sela kesibukan penelitiannya. “Saya mengajar program homeschooling untuk keluarga keturunan kerajaan Prancis (Louis XIV),dan mengajar homeschooling anak-anak berkebutuhan khusus yang teridentifikasi dyspraxia dan dislexia,” ujar Mahasiswi Master of Education, Université Rennes 2, Prancis.

Ia juga memaparkan kesediaannya melakukan kunjungan ke berbagai negara dilatarbelakangi oleh pengalaman sekolahnya dahulu, selain penelitiannya.

Ia rela mempelajari pendidikan dan pendekatan yang berbeda-beda di berbagai negara agar dapat menjadi dasar usulan pengembangan pendidikan dengan pendekatan yang berbeda di Prancis melalui penelitian dan tulisan ilmiah yang akan ia lakukan.

“Saya bercita-cita menjadi guru di tingkat usia dini (Primary School), karena bagi saya anak-anak adalah masa depan. Selain itu, berkaca pada pengalaman saya ketika bersekolah dulu, saya berpikir untuk dapat membuat perubahan dalam pendidikan. Caranya adalah dengan mempelajari berbagai pendekatan belajar mengajar di dunia dengan travelling,” jelasnya.

Ketika ditanya tentang pemahamannya mengenai pendekatan pendidikan, ia mengatakan bahwa pendidikan baiknya tidak terfokus pada instruksi semata, tapi terkait dengan pengembangan kepribadian.

“Pemberian Instruksi merupakan bagian dari proses belajar mengajar, namun, pendidikan tidak hanya sebatas itu, dalam pemahaman saya, pendidikan itu lebih kepada bagaimana mengembangkan kepribadian yang baik bagi murid-murid, seperti menjadi individu yang . Di Prancis, sistem pendidikan hanya terfokus pada akademik, instruksi. Sedangkan esensi pendidikan itu bagi saya mencakup keluarga dan anak,” jelasnya.

Mendengar tentang Cikal dari Kanada

Sebagai seorang Mahasiswi yang melakukan penelitian, Ia telah berencana melakukan serangkaian kunjungan ke berbagai sekolah yang memiliki pendekatan belajar menarik di berbagai negara, salah satunya Kanada. “Sebelum ke Indonesia, saya telah melakukan penelitian di berbagai sekolah di Kanada tahun lalu selama 5 bulan,” tukasnya.

Ketika ditanya tentang alasan pilihannya mengunjungi Indonesia, ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan satu dari daftar list kunjungannya, alasannya karena di Indonesia Budaya sangat erat dengan agama, jika dibandingkan dengan Prancis, di sekolah dalam praktiknya, simbol-simbol agama tidak disertakan dalam sekolah publik.

“Saya ingin mengetahui apakah budaya, dan agama di Indonesia memengaruhi pendekatan pembelajarannya di Sekolah,” ucapnya.

Selain itu, Ia juga menceritakan bahwa ia mendengar tentang konsep pendidikan di Cikal ketika Ia berkunjung di Kanada.

“Saat saya di Kanada, saya mendengar dari seorang guru bahwa ada sebuah pendekatan pengajaran dan pendidikan yang menarik di Jakarta bernama Sekolah Cikal. Saya kemudian mencari informasi melalui website Cikal, dan setelah itu pada akhirnya saya akhirnya memutuskan bahwa Cikal akan menjadi tujuan saya selanjutnya,” imbuh Mahasiswi Master of Education Université Rennes 2.

Dina Sari, selaku Wakil Kepala Sekolah Sekolah Cikal, mengatakan bahwa Sekolah Cikal sangat senang menerima kunjungan Inès Plessis Ouzariah.

“Sebagai komunitas Pelajar Sepanjang Hayat (life long learner community), kami meyakini bahwa setiap momen merupakan sebuah kesempatan untuk belajar. Kami tentu merasa bangga dan sangat mengapresiasi kunjungan dari Ms. Inès, terlebih karena ia memilih Sekolah Cikal dari banyaknya sekolah di Jakarta,” tukasnya.

Tidak terlupakan, Cerita dari Kelas Matematika

Dengan antusias, Inès memaparkan pengalaman yang paling mengesankan saat dirinya mengikuti salah satu kelas yakni kelas 5 saat pelajaran Matematika. Ia mengatakan bahwa pelajaran matematika di Cikal terlihat sangat menyenangkan.

“Ketika saya berada di kelas 5, saya ingat saat itu murid-murid tengah belajar pecahan (fraction), terdapat satu murid yang saya lihat memiliki kebutuhan khusus. Saat itu guru tengah memutarkan video, lalu memberikan contoh soal. Saya melihat murid-murid sangat antusias menjawab contoh soal yang diberikan,” ujarnya.

Selain itu, terdapat pula hal yang membuatnya merasa terharu yakni ketika salah satu anak inklusi yang berada di kelas mendapatkan dukungan yang sangat memanusiakan dari teman-temannya.

“Saat itu pula, saya melihat sebuah hal yang tidak akan pernah saya lupakan, yakni ketika murid inklusi dapat memberanikan diri menjawab dengan benar, kemudian setiap orang bertepuk tangan dan salah satu temannya mengatakan aku bangga padamu. Di situ saya benar-benar merasa esensi memanusiakan hubungan di Cikal ini sangat erat. Saya akan selalu mengingat hari itu. sangat luar biasa,” imbuh Perempuan yang bercita-cita menjadi guru ini.

Pendidikan di Cikal untuk Masa Depan

Selama melakukan kunjungan dan observasi, Dina mengatakan bahwa semua guru sangat terbuka dan menerima kedatangan Inès dalam kelas.

“Semua guru sangat terbuka dengan kehadiran Inès. Beberapa kali murid-murid pun terlihat mengajukan pertanyaan pada Inès, dan ia pun dengan senang hati menjawabnya. Salah satu guru kami pun dengan senang hati menunjukkan portofolio murid-murid sebagai bukti proses belajar di Cikal,” ujarnya.

Ketika ditanya pengalaman observasinya, Ia dengan antusias menyatakan bahwa pengembangan Kurikulum di Cikal sangat luar biasa. Selain itu, Ia juga terkesan dengan pengembangan kepribadian setiap murid di Cikal yang terlihat dari bagaimana murid-murid berperilaku satu sama lain dan terhadap orang lain.

“Saya melihat terdapat beberapa proyek murid tentang caring yang menjadi salah satu dimensi Cikal, di Prancis sekolah juga mempelajari tentang peduli (caring). Namun, sayangnya murid-murid tidak terlalu memikirkan tentang itu. Mereka mungkin memahami arti peduli karena belajar tentang itu, tapi mereka tidak terlalu merasakan itu; merasakan bagaimana menjadi seorang manusia yang peduli kepada orang lain,” jelasnya.

Di akhir interview, ia menyampaikan bahwa Sekolah Cikal merupakan sekolah yang mempersiapkan setiap anak untuk menjadi manusia bermanfaat di masa depan dan Ia sangat senang dapat kesempatan berkunjung ke Cikal..

“Saya sangat senang bisa berkunjung ke Cikal. Bagi saya, Cikal merupakan sekolah yang mempersiapkan masa depan setiap anak, untuk menjadi manusia yang bisa membangun masyarakat, dan menjadi manusia utuh yang bermanfaat. Terima kasih banyak telah memberikan saya kesempatan untuk datang dan mengamati proses pembelajaran di Sekolah Cikal,” tutup mahasiswa Prancis ini. (*)

Source: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/251510/riset-soal-pendidikan-mahasiswi-prancis-kunjungi-sekolah-cikal

ENROLL NOW