Perdana, Sekolah Cikal adakan Simulasi Sidang PBB

Jakarta, 20 Desember 2019. Untuk pertama kalinya, Sekolah Cikal mengadakan simulasi Model United Nations (MUN), yang dikhususkan untuk tingkat SMP dan SMA, pada 5-6 Desember 2019, bertempat di Sekolah Cikal Setu. Model United Nations (MUN) Sekolah Cikal merupakan kegiatan simulasi sidang PBB yang dilakukan sebagai bagian dari program pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi murid-murid tingkat SMP dan SMA dalam berbagai skill, antara lain, berbicara di muka umum (Public Speaking), berpikir kritis (Critical Thinking), Kepemimpinan (Leadership), menulis (Academic Writing), dan bernegosiasi (Negotiation). 

Basya, Inisiator Simulasi MUN Sekolah Cikal

Dalam pelaksanaannya, kegiatan MUN ini digelar oleh murid-murid Cikal yang berkolaborasi dengan guru dan komite. Ditemui di sela sesi persidangan, Amriza Basya, murid kelas 12 Sekolah Cikal Setu, mengungkapkan bahwa Ia memiliki kekhawatiran mengingat mengingat MUN ini adalah kegiatan perdana yang diadakan. 

“Pada awalnya, saya merasa bahwa ada kecemasan untuk memulai acara pertama ini, tapi, pada akhirnya karena adanya kolaborasi dengan guru, dan tim saya, kekhawatiran itu pun berubah menjadi antusiasme dan optimisme yang membuat saya lebih percaya diri menjalankan proyek pertama ini.” tukas Basya, selaku ketua pelaksana kegiatan Cikal MUN. 

Ia juga menambahkan bahwa persiapan menuju kegiatan ini sangat singkat dengan kegiatan proses pembelajaran yang tetap berlangsung menjelang acara. Meskipun begitu, antusiasme dan optimisme murid-murid dalam membangun kolaborasi dengan pihak sekolah melancarkan proses persiapan tersebut. 

Mengasah berbagai Dimensi Kompetensi 

Sebagai sekolah yang berbasis kompetensi dan karakter, Sekolah Cikal senantiasa mendukung peningkatan kompetensi dan pengembangan praktik baik bagi setiap anak. Pagelaran MUN, bagi Sekolah Cikal, akan menjadi jalan bagi murid-murid untuk terus meningkatkan kemampuannya yang direfleksikan dari Kompetensi 5 Bintang, yang mencakup Pelajar Merdeka, Mapan secara Emosional, Moral dan Spiritual, menjadi Pemikir yang Terlatih dan Efektif, Berwawasan Luas dan Berfisik Sehat, dan menjadi Anggota Masyarakat Dunia yang Berdaya dalam Mewujudkan Keadilan, Keberlanjutan, dan Kedamaian.

Keikutsertaan murid-murid Cikal dalam kegiatan ini, tentunya, memberikan murid-murid pengalaman mengenai proses sidang PBB sesungguhnya. Dalam acara ini, murid-murid akan mampu melatih dirinya dalam berbagai aspek kemampuan menjadi seorang diplomat, antara lain memiliki kemampuan komunikasi yang baik (Communicative), kemampuan untuk berpikiran terbuka dan kritis (Open-minded), dan bekerja sama dengan orang lain (Cooperative) . 

“Sebagai bagian dari MUN ini, saya dapat melihat setiap proses dan tahapan pelaksanaan dengan kolaborasi bersama yang lain. Saya bisa memulai networking dengan orang lain. Jadi, dalam hal ini, kooperasi dan kolaborasi itu diperlukan.” jelasnya Basya. 

Ia juga menambahkan bahwa MUN adalah kegiatan yang multidisipliner yang dapat menjadi sarana untuk memahami perspektif orang lain, lebih kritis, dan berpikir lebih terbuka. “Untuk delegatenya sendiri, mereka tentunya akan lebih kenal MUN, lingkungan debat, Critical Thinking.” 

Di akhir wawancara, Basya menyampaikan bahwa nantinya, Cikal akan mengadakan simulasi sidang PBB mengundang Sekolah lainnya. “Kita berharap bahwa di tahun 2020, kita akan menggelar Cikal MUN untuk eksternal yang akan mengundang sekolah dan delegasi lain.” tutup Basya. (SF)