Serunya Belajar Bisnis Eco-Friendly di STEAM Fair 2019

Jakarta, 16 Desember 2019. Sekolah Cikal memfasilitasi murid-muridnya untuk berkenalan dan memahami cara berbisnis dengan tetap mementingkan kondisi alam (eco-friendly business) melalui pagelaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics) Fair 2019 pada 11 Desember 2019. STEAM Fair merupakan kegiatan subjects showcase dari empat program pembelajaran yang berbeda mencakup sains, teknologi, teknik, seni dan matematika. 

Berbisnis Produk Ramah Lingkungan dari Hobi 

Bertemakan “When Business Meets Nature”, Sekolah Cikal mendorong murid-murid untuk meningkatkan kepedulian terhadap ragam permasalahan lingkungan, salah satunya dengan mengembangkan karya atau produk berbasis lingkungan (eco-friendly). Dalam acara ini, murid-murid terlihat sangat antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang mencakup seminar, workshop, dan kompetisi bisnis antar sekolah.

Anggi Puspita, selaku koordinator pelaksana seminar produk ramah lingkungan STEAM Fair 2019, memaparkan bahwa terdapat dua pembicara utama yang hadir di seminar, antara lain, Singgih Susilo Kartono (seorang product designer yang sukses memperoleh penghargaan dari hasil karyanya yakni Spedagi, Sepeda berbahan baku bambu, dan Radio Magno yang terbuat dari kayu), dan Syarafina Santividya dari Evoware (perusahaan yang memproduksi kemasan ramah lingkungan dari rumput laut). 

Sebagai salah satu pembicara kegiatan, Singgih Kartono mengungkapkan secara singkat latar belakang pembuatan karyanya yang berakar dari kegemarannya bersepeda. 

“Diawali dari kegiatan saya dulu yang senang bersepeda untuk kesehatan, dan melihat kenyataan Indonesia kaya akan bambu, namun tidak digunakan. Disisi lain saya juga melihat sepeda bambu lebih banyak diproduksi di Amerika dengan tangan (handmade). Jadi saya pikir seharusnya kita yang buat sepeda bambu. Dari situlah saya membuat sepeda bambu.” jelas Desainer Produk yang telah mendapatkan penghargaan Good Design Product tahun 2018 di Jepang kategori Innovation/Pioneering dan Experimental Design. 

Pertanyaan yang tidak biasa 

Ia pun menambahkan kesannya dengan antusias bahwa kegiatan STEAM Fair tahun ini merupakan kegiatan yang sangat baik untuk dilanjutkan untuk generasi muda, mengingat pertanyaan yang diajukan oleh murid-murid Sekolah Cikal saat seminar sangat baik, pengetahuan yang mendasari pertanyaannya pun sangat luas dan tidak biasa muncul dalam seminar di tempat lainnya. 

“Saya kira anak-anak muda ini, harus sering dipertemukan pada orang atau kegiatan atau proyek terkait dengan masalah lingkungan juga dari aspek bisnis. Jadi, kalau sekarang istilahnya kewirausahaan sosial (social enterprise) hal ini akan menjadi sesuatu yang sangat lazim untuk masa kini dan mendatang.” ujarnya. 

Kegiatan yang Merefleksikan Dimensi Kompetensi 

Anggi Puspita, selaku Science Coordinator, memaparkan lebih jauh mengenai latar belakang pagelaran kegiatan STEAM Fair yang merupakan latihan mencapai dimensi kompetensi. “Acara STEAM Fair ini tentu saja sangat bermanfaat buat murid-murid. Di dalam STEAM Fair, setiap kegiatannya adalah bagian dari latihan anak-anak mencapai beberapa dimensi Cikal yang selalu kita tanamkan.” ucapnya.

Ia juga menambahkan beberapa contohnya,seperti dimensi kooperatif pada saat anak-anak bekerja sama di workshop, melakukan suatu kegiatan atau berkompetisi dalam tim, dan ada pula intelijen, inovatif untuk membuat anak-anak mampu melakukan inovasi lebih lanjut.

“Dengan mereka mengerti bahwa mencintai lingkungan adalah sesuatu yang positif, itu memberikan mereka gambaran bagaimana mereka berefleksi dan kemudian bisa juga berpikiran terbuka dengan keadaan saat ini dan melihat dari sisi yang berbeda dari kegiatan ini.” tutupnya.(SF)