Moderasi Dalam Pengajaran Agama di Sekolah Cikal

Berbagi Suara, Berbagi Cerita
Moderasi dalam Pengajaran Agama
Oleh Mirwan Abdul Aziz
Pendidik Sekolah Cikal


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukannya salah satunya dapat dilihat dari adanya beberapa kepercayaan dan agama. Adanya hal tersebut membawa kepada perbedaan cara pandang atau keberagamaan seseorang.


Sebagai sekolah yang memiliki murid-murid dengan latar belakang agama yang berbeda, Sekolah Cikal menyadari pentingnya menanamkan dan menumbuhkan sikap menghargai perbedaan. Hal itu dapat terlihat jelas dari kompetensi atau sikap pembelajar yang ingin dicapai, di antaranya murid Sekolah Cikal diharapkan memiliki sikap berpikiran terbuka (open-minded), sikap menghargai dan toleransi. Semuanya itu diaplikasikan dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran, termasuk pelajaran Agama Islam.

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana memperkenalkan dan menumbuhkan toleransi keberagamaan pada murid di Sekolah Cikal agar dapat menunjukkan sikap menghargai perbedaan? Ada beberapa hal yang saya lakukan sebagai guru Agama Islam di Sekolah Cikal, di antaranya:

Melakukan tanya jawab dan memberi penjelasan

ini biasanya terjadi di kelas level kecil seperti reception dan kelas. Beberapa murid saya di reception pernah mempertanyakan mengapa dua orang temannya belajar di ruangan yang lain ketika sesi agama. Atau ketika murid saya di kelas 1 mempertanyakan arti kata kafir ketika menghafal surah Al-Kaafiruun. Penjelasan yang diberikan disesuaikan dengan usia murid.

Misalnya, mayoritas murid reception belum memahami makna kata agama, sehingga penjelasan yang diberikan kepada mereka berkaitan dengan hal yang dekat dengan mereka. Salah satu penjelasan yang pernah diberikan kepada murid-murid saya yang muslim bahwa teman mereka akan belajar hal yang berbeda dan belajar doa/ibadah yang caranya berbeda dengan mereka.

Mengenai makna kafir dalam surah Al-kafiruun, saya menjelaskan bahwa yang membedakan mereka sebagai muslim dengan non muslim adalah perbedaan agama dan Tuhan yang disembah. Namun, mereka berasal dari keturunan yang sama, yaitu keturunan Adam AS. jadi, mereka masih bisa berteman dengan teman yang non muslim dan masih bisa berkolaborasi dalam hal kebaikan.

Saya pun menceritakan pengalaman saya yang bekerja sama dengan beberapa guru non muslim kepada murid-murid. Tidak disangka, ketika sesi Agama Islam di kelas hampir selesai, murid non muslim masuk ke dalam kelas dan teman-temannya yang muslim memeluk dirinya. Dan dia pun bingung mengapa dirinya dipeluk seperti itu. Saat ini, anak-anak tersebut duduk di kelas 5.

Memberikan pengalaman belajar yang dapat membuat murid memahami adanya perbedaan, yaitu:

Sebagai contoh, murid-murid kelas 2 pernah dikelompokkan dalam kelompok kecil, setiap kelompok terdiri 2 orang. Kemudian setiap kelompok diminta untuk mencari perbedaan dan persamaan di antara keduanya. Murid-murid mulai melihat dari warna kulit, tinggi badan, asal daerah, golongan darah dan lain-lain. Kemudian diajak untuk melihat kebudayaan Indonesia yang beragam, seperti pakaian, rumah adat, bahasa daerah, alat musik, makanan dan lain-lain.

Murid-murid kelas 5 pun pernah diminta untuk mengidentifikasi perbedaan apa saja yang mereka temukan dalam Agama Islam, seperti dalam hal tatacara beribadah. Ini membuktikan bahwa perbedaan itu ada di sekitar mereka.
Membaca artikel tentang perbedaan


Hal ini pernah saya lakukan di kelas 5. Saya pernah memberikan artikel tentang perbedaan pendapat yang terjadi di antara para sahabat ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. Murid-murid dapat mengambil kesimpulan bahwa perbedaan pendapat sudah terjadi dari masa nabi dan masih ada sampai sekarang. Jadi, perbedaan itu bukan lagi menjadi sesuatu hal yang baru.

Berdiskusi. Mereka juga diajak untuk berdiskusi tentang sikap yang harus ditunjukkan ketika mendapati perbedaan dalam masalah furu’ (masalah cabang yang masih ditolerir jika ada perbedaan pendapat) dan dalam masalah ushul (masalah yang sudah menjadi kesepakatan seluruh Umat Islam).

Contoh dari kegiatan ini adalah murid-murid dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan pertanyaan atau studi kasus yang dibuat oleh guru, seperti:

Apa yang harus kalian lakukan jika mendapatkan teman yang melakukan sholat tarawih 23 rakaat, sedangkan kalian sholat tarawih dengan 11 rakaat?

Atau ketika pada hari minggu kamu pergi ke Bandung bersama 4 teman yang lain dengan menggunakan sebuah mobil. 2 teman kamu beragama Kristen dan 2 teman yang lain beragama Islam. Sesampainya di Bandung, teman yang beragama Kristen perlu datang ke gereja untuk menghadiri ibadah tertentu. Menurutmu, apa yang harus kamu lakukan?


Dan jika mereka mengajakmu untuk ikut masuk ke gereja dan beribadah bersama, apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana sikap kalian ketika mendapati teman kalian yang berbeda agama sedang makan sedangkan kalian sedang berpuasa?

Kegiatan diskusi di atas juga akan membuat mereka menghadapi perbedaan pendapat secara langsung dari teman-teman mereka dalam satu kelompok tersebut.

Melakukan sesuatu dalam kegiatan assessment


Untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka tentang perbedaan, murid-murid kelas 2 diminta untuk membuat cerita tentang perbedaan pendapat menurut versi mereka masing-masing.

Dan yang menjadi pesan moral dari isi cerita mereka adalah saling menghormati dan menghargai. Murid-murid kelas 5 pun diajak untuk menjadi content creator yang membuat konten tentang pentingnya bersikap menghargai perbedaan. Konten tersebut diposting di media sosial orang tuanya dengan tujuan mengajak orang-orang untuk bersikap berpikiran terbuka, toleransi dan saling menghargai terhadap perbedaan, baik perbedaan mazhab ataupun agama.

Memberikan pertanyaan refleksi dari apa yang telah dipelajari

Pertanyaan yang pernah dibuat diantaranya:

  • Mengapa kita tidak boleh melarang teman kita yang non muslim untuk memakan daging babi?
  • Menurutmu, apa yang akan terjadi jika kita salah dalam menyikapi perbedaan?
  • Menurutmu, mengapa kita perlu menunjukkan berpikiran terbuka, saling menghormati dan toleransi terhadap perbedaan?
  • Perbuatan baik apa yang bisa kalian lakukan terhadap teman kalian yang berbeda agama?
  • Dalam kegiatan apa saja kalian bekerjasama dengan teman kalian yang berbeda agama di Sekolah Cikal?
Saya dan guru-guru agama yang lain senantiasa berupaya untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid-murid, termasuk di dalamnya pengalaman belajar dalam menghadapi perbedaan. Dan ini sejalan dengan apa yang sedang digalakkan oleh Kementerian Agama yaitu moderasi dalam pengajaran agama.


Profil Pendidik

Mirwan Abdul Aziz atau yang biasa dikenal dengan Pak Mirwan merupakan pendidik program Agama Islam di Sekolah Cikal. Ia dikenal selalu menciptakan strategi diskusi yang inovatif dalam pembelajaran Agama Islam di Sekolah Cikal.

I'M INTERESTED