Durasi Waktu Baca : 2 Menit Jakarta, Pendidkan Inklusi Cikal. Membangun kelekatan anak dengan kebutuhan khusus (ABK) dengan saudara sekandungnya seringkali dipersepsikan sebagai bentuk memberikan beban tambahan atau membentuk ketergantungan. Namun, faktanya, bagi Muthia Devita, Coordinator Associate Pendidikan Inklusi Cikal, membangun kelekatan ABK dengan saudara sekandungnya bukanlah tentang membebani saudara sekandung dengan tujuan mendampingi ABK atau tentang mendorong ABK menjadi bergantung pada saudaranya, melainkan memiliki 2 makna esensial yakni menjadi ruang sosial awal bagi ABK untuk belajar mengenali diri dan menjadi ruang aman untuk membangun kualitas interaksi yang bermakna dalam keseharian. Seperti apa penjelasan Muthia, selengkapnya berikut ini! Sebagai pendidik yang aktif memberikan pandangan mengenai pentingnya optimalisasi ABK di Sekolah dan di dalam keluarga, Muthia menuturkan bahwa Saudara Sekandung ABK adalah ruang belajar sosial yang paling awal dan aman bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus mengenali dirinya bahkan berinteraksi. “Saudara sekandung ABK menghadirkan ruang belajar sosial yang paling awal bagi ABK, ruang di mana anak dapat belajar mengenali diri, mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi.” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa dengan sebagai ruang belajar sosial yang paling awal bagi ABK, saudara sekandung dapat menjadi role model atau bahkan teman belajar dalam beberapa hal, baik itu cara mengekspresikan kebutuhan, berbagi, dan lainnya. “Melalui observasi dan imitasi, ABK yang belajar bersama saudara sekandungnya sebagai ruang sosial paling awal di rumah akan dapat belajar mengekspresikan kebutuhan, menunggu giliran, berbagi, serta memahami aturan sosial dalam kehidupan sehari-hari.” jelasnya. Baca Juga : 2 Peran Penting Saudara Sekandung untuk Optimalisasi Hidup Anak Berkebutuhan Khusus Di luar negeri dan di dalam negeri, beberapa orang tua dan pemengaruh dalam pengasuhan anak ABK (Influencer parenting ABK) telah cukup banyak membagikan video gambaran upaya membangun kelekatan yang aman dan alami agar ABK dapat tumbuh dengan optimal di sosial media. Menyikapi hal tersebut, Muthia menanggapi dengan positif seraya kembali menekankan bahwa kualitas dan usaha dari orang tua dalam kelekatan saudara sekandung ABK yang menjadi poin yang perlu diperhatikan, karena dalam hal ini, saudara sekandung ABK menjadi ruang aman dan alami dalam berinteraksi. “Membagikan interaksi antara Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan saudara sekandung di media sosial mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya relasi awal yang bermakna dalam kehidupan ABK dan kualitas kelekatan yang terbangun di balik relasi tersebut. Jadi, penting untuk dipahami bahwa melekatkan ABK dengan saudara sekandungnya bukanlah tentang membentuk ketergantungan atau membebankan peran tertentu, melainkan tentang membangun relasi yang aman, alami, dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari.” imbuhnya. (*) Baca Juga : Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal Narasumber : Muthia Devita, Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus jenjang SMP dan SMA Coordinator Associate Editor : Layla Ali Umar Penulis : Salsabila FitrianaKelekatan sebagai Ruang Sosial Awal ABK
Kelekatan sebagai Bentuk Relasi Aman dan Alami
Informasi Cikal Support Center