Pahami Apa itu Pertemanan Sehat, Tantangannya, Langkah Mengenalkannya, dan Dampak Positifnya bagi Pengembangan Diri Anak

Durasi Waktu Baca :  4 Menit



Jakarta, Sekolah Cikal. Pengasuhan anak adalah sebuah fase yang membutuhkan komitmen pembelajaran, pendampingan, dan pengembangan yang berkelanjutan dari orang tua. Hal ini tentu merefleksikan peran orang tua sebagai pelajar sepanjang hayat yang tidak akan pernah berhenti dalam setiap aspeknya termasuk mendampingi dan mengawasi anak-anak untuk berada dalam pertemanan sehat. 


Psikolog klinis anak dan juga Personal and Social Education (PSE) Program Leader di Sekolah Cikal, Lecya Lalitya, S.Psi, M.Psi, Psikolog atau yang akrab disapa Psikolog Caca menyebutkan bahwa pertemanan dalam kehidupan anak dapat meningkatkan perkembangan dan fungsi sosial-emosi anak. Namun, konsep pertemanan dalam hal ini tentu tak sekadar pertemanan saja, mengingat di masa kini orang tua tetap perlu memberikan perhatian dan pengawasannya dalam membentuk pola pertemanan sehat bagi anak. 


Seperti apa pertemanan sehat dan dampak positif apa yang dapat diraih oleh anak?


Apa itu Pertemanan Sehat Pada Anak?


Psikolog Caca menyebutkan bahwa pertemanan sehat itu dapat terjalin atau hadir apabila hubungan dari kedua pihak atau lebih dipenuhi dengan emosi positif dan bersifat suportif satu sama lain.


“Sebuah hubungan pertemanan sehat pada anak dapat dikatakan sehat apabila kedua pihak (atau pihak-pihak) yang terlibat dalam hubungan tersebut cenderung berada dalam emosi yang positif dan mendukung perkembangan satu sama lain, apabila terjadi konflik akan dihadapi bersama dalam upaya mempertahankan hubungan tersebut. “ ucapnya. 

Ia juga memberikan referensi indikator pertemanan sehat pada anak yang dapat dilihat dari aspek-aspek yang mengikat pertemanan anak. Apabila pertemanan itu sehat, maka dalam pertemanan tersebut anak akan banyak belajar dan/atau dipenuhi refleksi saling menghargai (Respect), Kesetaraan (Equality), Kepercayaan (Trust), Dukungan (Support), dan komunikasi (Communication). 

Sebaliknya apabila pertemanan anak cenderung akan banyak merasakan hal-hal yang tidak baik dalam pertemanannya, baik itu ketidakjujuran, terlalu banyak kompetisi dan lain sebagainya yang membuat anak merasa tidak nyaman. 

Terlampir tabel indikator pertemanan sehat dan tidak sehat menurut rekomendasi Lecya Lalitya, S.Psi, M.Psi, Psikolog 

Heathy Friendship 

Unhealthy Friendship 

  • Equality

  • Respect

  • Trust

  • Support

  • Communication

  • Disrespect

  • Dishonest/distrust

  • Too much competition

  • Dependence

  • Any form of violence


Baca juga : Pengertian Love Language, Bahasa Cinta dan Cara Mengekspresikan Kasih Sayang, dan Sejarah Kelahirannya di Dunia!




Tantangan Pertemanan Sehat Bagi Remaja

Dalam konteks anak usia remaja, psikolog Caca menyebutkan bahwa tantangan paling besar yang dapat dirasakan oleh remaja dalam pertemanan adalah tekanan. Oleh karena itu, apabila anak sudah merasakan adanya tekanan, orang tua dalam hal ini dapat melakukan intervensi dan pendampingan pada anak. 

“Pada anak usia remaja, tantangan yang umumnya muncul adalah peer pressure. Apabila dalam suatu kelompok ada pihak yang memberikan tekanan untuk melakukan suatu hal yang tidak sejalan dengan nilai kita, maka ini menjadi indikator bahwa pertemanan mulai tidak sehat. Salah satu pertanda bahwa pertemanan sehat adalah adanya respect dan support, baik terhadap nilai, keputusan, dan pilihan. Maka, dengan adanya tekananyang berlebihan untuk melakukan sesuatu, pertemanan tersebut mulai kehilangan respect-nya.” jelasnya. 

Baca juga : Pentingnya Memahami Bahasa Cinta (Love Language) dan Tipe-Tipe Bahasa Cinta dari Sisi Parenting





Langkah Mengenalkan Pertemanan Sehat Pada Anak dari Rumah 

Anak dalam kesehariannya sejak usia dini akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua selain bersekolah, oleh karena itu, Psikolog Caca merekomendasikan beberapa aksi atau praktik baik yang dapat dilakukan oleh orang tua 

“Orang tua dapat memberikan contoh kepada anak bagaimana menjalin relasi yang baik di rumah. Hal ini dapat dilakukan dengan menjalin komunikasi positif bersama pasangan, anak, atau pegawai rumah tangga. Orang tua juga dapat memberikan contoh penyelesaian masalah yang baik kepada anak, seperti bagaimana cara meregulasi emosi, menggunakan i-message, kompromi, dan meminta maaf. Keterampilan-keterampilan inilah yang dapat menjadi bekal bagi anak untuk menjalin hubungan sosial/pertemanan yang baik.” jelasnya. 

Baca juga : Bukan Lagi Pemberian PR! Diferensiasi Proyek dan Kegiatan Anak, Bangun Kebiasaan Anak Memilih Tantangan dan Bangun Motivasi Internal Secara Natural untuk Belajar




Dampak Positif Pertemanan Sehat Pada Anak

Sebagai psikolog anak di Sekolah Cikal, Caca menyebutkan bahwa pertemanan sehat dapat memberikan dampak positif yang berkepanjangan dalam diri anak dari sisi fungsi sosial-emosional anak. 

“Di kutip dari buku “Psychology of Friendship (2017)”, fungsi utama pertemanan adalah meningkatkan perkembangan dan fungsi sosial-emosi anak. Dengan adanya teman, anak memiliki companion untuk berbagi dan belajar. Berbagi hal yang ia sukai, melakukan berbagai kegiatan, bercerita, dan masih banyak lagi. Hal ini membantu anak untuk menjalin kelekatan (intimacy) dengan orang lain. Ia juga dapat mengembangkan sense of worth. Selain itu, anak belajar untuk menjadi lebih komunikatif, berkompromi, mengelola emosi agar tidak menyakiti temannya.”ucapnya. 

Jika penjelasan di atas dideskripsikan dalam bentuk poin-poin maka terdapat 6 dampak positif di antaranya:

  1. Meningkatkan perkembangan dan fungsi sosial-emosi anak.

  2. Membangun kebiasaan baik untuk berbagi dan belajar 

  3. Menjalin kelekatan dengan teman sebaya dan orang lain 

  4. Mengembangkan rasa menghargai diri (sense of worth)

  5. Mengembangkan kompetensi komunikasi 

  6. Mengembangkan kemampuan mengelola emosi dan berkompromi dalam perbedaan

Di akhir kesempatan, psikolog Caca memberikan pengingat kepada para orang tua untuk memberikan pendampingan dan perhatian pada anak sebagai prioritas. 

“Ingatlah, bahwa anak adalah spons, yang menyerap berbagi hal di sekelilingnya. Maka, Anak pertama kali belajar berinteraksi dan membangun hubungan dari interaksi dirinya dengan orang tua, serta cara orang tua (atau anggota keluarga) berinteraksi dengan orang lain. Maka, be mindful with how you interact with others, while around your child.” tutupnya. 


Baca juga : Khawatir dengan Dampak Negatif Penggunaan Media Sosial Pada Remaja? Orang tua, Coba Simak Tips Pendampingannya berikut ini!




Informasi Customer Service Cikal 


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Lecya Lalitya, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Ms Caca is a certified clinical child psychologist, who graduated from Universitas Indonesia majoring in Clinical Child Psychology. She joined Sekolah Cikal in 2020 as a school counsellor and PSE program leader. Ms Caca has been working with children since 2017. She is passionate about child development and mental health. She believes in the "connection before correction" approach.


  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED