Pentingnya Memahami Bahasa Cinta (Love Language) dan Tipe-Tipe Bahasa Cinta dari Sisi Parenting

Durasi Waktu Baca : 5 Menit



Jakarta, Sekolah Cikal. Seiring masyarakat mengikuti perkembangan informasi mengenai bahasa cinta (love language) dalam kesehariannya, penting juga bagi kita sebagai manusia untuk memahami lebih dalam mengenai urgensi atau pentingnya bahasa cinta dalam kehidupan kita sehingga kita tidak hanya sekadar mengikuti tren semata melainkan memahami seutuhnya fungsi dan esensi dari bahasa cinta itu sendiri hingga tipe-tipenya untuk diterapkan secara optimal dalam keseharian kita. 


Baca dulu : Pengertian Love Language, Bahasa Cinta dan Cara Mengekspresikan Kasih Sayang, dan Sejarah Kelahirannya di Dunia!


Psikolog Anak dan juga Konselor di Sekolah Cikal, Efika Fiona, M. Psi., Psikolog atau yang akrab disapa Efika menyebutkan bahwa secara umum memahami bahasa cinta secara utuh akan membantu kita sebagai manusia memahami diri kita sendiri dalam mengekspresikan kasih sayang kepada orang lain.  Seperti apa penjelasan lengkapnya? Simak berikut ini

PENTINGNYA MEMAHAMI BAHASA CINTA (LOVE LANGUAGE)


Efika menuturkan bahwa terdapat dua urgensi dalam memahami bahasa cinta atau love language sebagai manusia: pertama,  memahami bahasa Cinta akan membantu kita mengenali diri kita sendiri dalam mengekspresikan kasih sayang kepada orang lain, kedua mendorong kita lebih efektif menyampaikan atau mengungkapkan rasa kasih sayang kepada orang lain. 


“Urgensi memahami love language itu sebetulnya adalah karena kita  dalam berhubungan dengan orang lain (seperti dalam hubungan orang-tua anak), diperlukan adanya pemahaman akan kebutuhan setiap diri individu yang terlibat di dalamnya. Dengan memahami love language, kita dapat lebih memahami mengenai diri kita sendiri sebagai orang tua atau pun orang yang berhubungan dengan kita (anak). Selain itu, dengan mengetahui love languages, kita dapat lebih efektif dalam mengkomunikasikan/ menyampaikan rasa cinta kita sesuai dengan kebutuhan pada orang yang kita kasihi.” jelasnya. 


Baca juga : Orang Tua, Ketahui Pentingnya Membangun Kebiasaan Merapikan Mainan Sejak Dini


TIPE-TIPE BAHASA CINTA (LOVE LANGUAGES) DALAM PARENTING


Efika menyebutkan terdapat 5 bahasa cinta yang seringkali diterapkan dalam pendekatan psikologis pengasuhan anak, antara lain sebagai berikut: 

  1. Kata-Kata Penegasan (Words of Affirmation)


Menurut Efika, words of affirmation merupakan bahasa cinta pertama yang diungkapkan melalui kata-kata ucapan atau tulisan, bentuknya dapat berupa kata-kata penyemangat, pujian, ataupun ucapan kasih sayang. 


Dalam konsep pengasuhan anak atau parenting contoh penerapan Words of Affirmation dapat terefleksikan dalam detail berikut:

Contoh perkataan anak yang membutuhkan Words of affirmation

“Talk to me!” atau “Aku bagus nggak tadi waktu tampil atau presentasi?”  

(Kata-kata berikut menunjukkan keinginan dan kebutuhannya untuk menerima kata-kata dari orang sekitar).

Contoh perilaku words of affirmation

  • Mengucapkan “Sukses yaa untuk ujiannya hari ini. Kamu pasti bisa” sebelum anak berangkat sekolah untuk ujian

  • Memberi apresiasi dengan mengucapkan “Makasih yaa, Nak, sudah mau berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas”

  • Mengucapkan “I love you, Ma/Pa” atau “Mama/Papa sayang banget sama kamu”



  1. Waktu Berkualitas Bersama (Quality Time)

Di bahasa cinta kedua, Efika menyebutkan bahwa quality time merupakan bahasa cinta yang diekspresikan dengan cara menikmati waktu berkualitas bersama. Maksud dari waktu berkualitas disini adalah memberikan fokus sepenuhnya dengan orang yang dikasihi.


Contoh perkataan anak yang membutuhkan hal tersebut:

“Come here! Look at this!” atau “Coba sini deh, main sama aku” merupakan cara anak meminta untuk diberikan waktu dan fokus sepenuhnya pada dirinya.


Contoh perilaku  quality time

Memberikan waktu sekitar 20-30 menit untuk fokus sepenuhnya bermain, bertukar cerita, ataupun menghabiskan waktu dengan anak. Selama durasi waktu tersebut sebisa mungkin menjauhkan hal-hal yang dapat menjadi distraksi dalam interaksi dengan anak, seperti menjauhkan diri dari handphone ataupun aktivitas lainnya sejenak.



  1. Menerima Hadiah (Receiving Gifts)

Bahasa cinta ketiga adalah menerima hadiah (receiving gifts) yang dapat diekspresikan dengan wujud hadiah atau pun token. Hadiah dalam hal ini tidak harus merupakan sesuatu yang mahal, tetapi yang bermakna. Hadiah dapat merupakan benda yang dibeli ataupun dibuat. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian hadiah dengan usia anak dan manfaatnya.


Contoh perkataan anak yang membutuhkan hal tersebut:

“Presents, Please!” atau “Aku mau hadiah …. yaa di ulang tahun nanti” 

Ungkapan tersebut merupakan beberapa contoh cara anak untuk menunjukkan keinginan dan kebutuhannya untuk menerima hadiah sebagai bahasa cinta dari orang terkasih.


Contoh perilaku  receiving gifts

Memberikan kado atau hadiah kepada anak ataupun orangtua. Pemberian ini tidak harus selalu di momen spesial, tetapi dapat juga diberikan pada konteks yang dirasa pas dan sesuai, sehingga dapat dirasakan lebih bermakna dan bermanfaat oleh penerimanya.


  1. Tindakan Melayani (Acts of Service)

Bahasa cinta keempat menurut Efika adalah acts of service, yang diekspresikan dengan cara melakukan sesuatu untuk orang yang dikasihi. Hal ini dapat berupa perilaku-perilaku sederhana, namun dapat membantu orang yang dikasihi tersebut. acts of service dapat merupakan acts of love.


Contoh perkataan anak yang membutuhkan Acts of Service:

“You do it for me!” atau “Tolong bantuin aku kerjain ini dong” merupakan salah satu cara anak untuk mengekspresikan kebutuhannya terhadap aksi orang sekitar untuk menolongnya sebagai tanda mengasihinya.


Contoh perilaku  acts of service

  • Membantu anak merapikan tempat tidurnya saat ia di usia yang masih memerlukan bantuan.

  • Anak membawakan air minum kepada orang tuanya setelah orang tua tiba di rumah sepulang kerja.

  1. Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Bahasa cinta kelima adalah sentuhan fisik atau physical touch merupakanbahasa cinta yang diekspresikan melalui sentuhan-sentuhan fisik.


Contoh perkataan anak yang membutuhkan hal tersebut:

“Cuddle me!” atau “Aku mau dipeluk dong sama mama/papa” anak berusaha mengekspresikan kebutuhannya untuk menerima sentuhan fisik dari orang terkasih.


Contoh perilaku  physical touch

  • Memeluk anak ataupun orang tua sebelum berangkat dari rumah untuk beraktifitas

  • Mencium pipi anak ataupun orang tua sebelum tidur di malam hari



Pada dasarnya setiap orang memiliki kelima love languages ini, hanya saja biasanya ada love language yang lebih dominan/lebih sering diekspresikan oleh orang tersebut. Misalnya: Orang yang love language-nya cenderung lebih dominan pada physical touch, biasanya orang tersebut lebih sering untuk mengekspresikan cintanya melalui sentuhan fisik, seperti gentle touch ataupun pelukan. Orang tersebut juga biasanya lebih senang untuk menerima pengekspresian cinta melalui sentuhan fisik.


Sebagai psikolog anak, Efika menyebutkan bahwa dalam penerapannya tipe-tipe bahasa cinta dalam konteks pengasuhan anak ini pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang tua dan anak, namun, seringkali terdapat satu atau dua bahasa cinta yang lebih dominan untuk diterapkan. 


Nah, dari penjelasan di atas apakah Anda sudah mengenali tipe bahasa cinta dalam konteks pengasuhan anak? Semoga bisa menjawab kebutuhan dan rasa ingin tahu Anda tentang bahasa cinta, ya! (*).


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)



Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber :  Efika Fiona, M. Psi., Psikolog

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED