Angan DaHooman Murid Kelas 5 Sekolah Cikal, Ciptakan Lagu HipHop Bertemakan Anti Rasisme

Jakarta, Sekolah Cikal. Tugas sekolah biasanya identik dengan mengerjakan soal atau membuat presentasi yang harus dikumpulkan dalam batas waktu tertentu. Hal ini tentu seringkali murid merasa terbebani, dibandingkan senang menikmati proses belajar dari rumah.

Uniknya, istilah tugas di Sekolah Cikal dinamakan tampak berbeda dan berhasil dibuat menjadi ruang untuk memantik kreativitas anak. Salah satu murid kelas 5 Sekolah Cikal, Angan Senja atau yang lebih dikenal dengan Angan DaHooman, berhasil menciptakan lagu Hiphop bertemakan Anti Rasisme bermula dari pengerjaan proyek akhir program musik di sekolah.


(Angan Da Hooman, Murid kelas 5 Sekolah Cikal Cilandak, membuat lagu Hiphop bertemakan Antirasisme. Doc. Instagram Angan DaHooman)

Proyek Akhir Kelas Seni

Sebagai sekolah yang mengutamakan proses belajar sesuai kebutuhan, Sekolah Cikal membuat proses belajar yang cukup unik saat kondisi pandemi. Dadi Yudistira, guru program Seni Sekolah Cikal Cilandak menyatakan bahwa di semester kelas murid diberikan pilihan membuat proyek akhir seni sesuai minat dan bakat, baik itu seni pertunjukkan, seni Musik, dan seni rupa/visual.

“Di Sekolah Cikal, di term 4, pembelajaran seni mencakup seni musik, seni pertunjukan/drama, seni rupa/visual. Setiap anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari semua bidang seni dan sub seni secara menyeluruh. Namun, untuk tugas akhir mereka diperbolehkan memilih untuk melaksanakannya dalam pilihannya sesuai dengan tujuan characterized dan personalized akan tercapai.” ujar Dadi Yudistira

Murid-murid sangat antusias dan Angan, memilih seni musik sebagai tema besar proyek akhir yang akan ia buat. Dadi menambahkan bahwa Ia sangat takjub dengan hasil Angan yang membuat karya musik berjudul Trumpet bertemakan anti rasisme dengan genre hiphop.


(Proyek Akhir kelas Seni, Angan DaHooman membuat musik hiphop berjudul Trumpet, bertemakan Antirasisme. Doc. Instagram Angan DaHooman)

“Saya bersyukur sekali dan takjub saat melihat Angan mempresentasikan musik original karyanya yang bergenre hip hop dengan konsep dan dengan produk video klipnya sekaligus.” tutur Dadi saat dihubungi Humas Cikal (3/8). Ia juga mengatakan bahwa bermula dari bakat Angan yang Ia kenali di sekolah di bidang musik, Angan berhasil membuat sebuah proyek akhir yang benar-benar luar biasa.


Suara Angan, Suara Anak Indonesia

Saat ditanyakan mengenai alasannya membuat lagu bergenre hiphop demi menyuarakan minat dan suaranya terhadap isu rasisme yang terjadi di Amerika. Angan Dahooman, menyatakan bahwa idenya terinspirasi dari pengalamannya berteman dengan banyak latar belakang budaya dan warna kulit saat di Amerika.

“Ketika aku tinggal di Amerika, aku banyak memiliki teman dengan latar belakang budaya dan warna kulit yang berbeda. Apa yang terjadi waktu itu di Amerika benar-benar mengagetkanku. Setiap orang berhak untuk hidup setara, siapapun tidak seharusnya mengambil hak hidup manusia lain. Adalah ketidakadilan jika seseorang kehilangan hak hidupnya hanya karena warna kulit.” tuturnya ketika dihubungi oleh Humas Cikal.


(Angan DaHooman mewakili suara anak Indonesia menggaungkan semangat kesetaraan, anti rasisme dan menghargai keberagaman, melalui lagu hiphop. Doc. Instagram Angan DaHooman)

Sebagai salah satu anak Indonesia yang kini duduk di kelas 5 Sekolah Dasar Cikal Cilandak, Ia juga menyatakan harapannya agar masyarakat Indonesia tidak memiliki pola pikir rasis seperti yang terjadi di Amerika dan menghormati perbedaan latar belakang budaya.  “Aku berharap kita semua berhenti berperilaku rasis, kita sebagai manusia harus dapat menghormati manusia lain apapun latar belakangnya.” tambah Angan.

Suara Angan melalui lagu Trumpet menjadi wakil dari jutaan anak Indonesia yang juga menyuarakan pentingnya hidup dalam kesetaraan dan tidak adanya aksi rasis lainnya. Selain itu, tentu karya Angan ini menjadi sebuah contoh unik pemberian tugas sekolah yang memaksimalkan kompetensi yang murid miliki di segala bakat dan minatnya. “Bagi saya kebanggan menjadi pengajar adalah ketika kita memberikan kesempatan emas bagi murid untuk memaksimalkan kompetensi yang ia miliki di segala bakat maupun minatnya, terlebih mereka melakukannya sepenuh hati.” tutup Dadi. (sfa)

ENROLL NOW