Pameran Creativity, Activity & Service (CAS) Sekolah Cikal Setu Buktikan Anak Muda Tetap Berkontribusi Nyata!

Jakarta, Sekolah Cikal. Sebagai Sekolah yang berorientasi pada aksi dan kompetensi dalam diri murid, Sekolah Cikal Setu tahun ini kembali mengadakan Pameran Proyek CAS bagi kelas 12 program International Baccalaureate (IB) secara virtual pada (5/2)

Mengusung tema Physically Distant, Virtually Connected proyek aksi tahunan murid Sekolah Cikal Setu yang berorientasi pada pelayanan masyarakat beralih dari proyek lapangan, menjadi proyek daring.

Tetap Melakukan Aksi Meski Terbatas Jarak


Pameran Proyek CAS Sekolah Cikal Setu pada dasarnya bermula dari Program CAS (Creativity, Activity, and Sevice) International Baccalaureate (IB) Sekolah Cikal yang sifatnya wajib dan diperuntukkan oleh kelas 11 dan kelas 12. Tujuan dari program ini adalah mengembangkan beberapa karakter dan kompetensi murid antara lain peduli (caring), kepemimpinan (impactful leading), reflektif (reflective), komunikatif (communicative), dan berorientasi pada aksi (action-oriented).



Menurut CAS Coordinator, Nisa Amalina Sabrina atau yang lebih akrab disapa Nisa, tahun ini adalah pertama kalinya pelaksanaan pameran aksi nyata dan kontribusi murid pada masyarakat dilakukan secara daring.


“Tahun ini, pertama kalinya CAS exhibition diadakan secara online. Tema besar tahun ini adalah physically distant, virtually connected, menyesuaikan bentuk project murid kelas 12 yang lebih banyak beralih menjadi project online, baik itu webinar, online workshop, podcast, raising awareness mengenai covid melalui instagram maupun youtube video. Namun ada juga beberapa anak yang melakukan beberapa project offline sebelum pandemi, seperti festival literasi, sport competition and donation.” jelas Nisa.


Di masa pandemi ini, murid Sekolah Cikal Setu menghasilkan 33 proyek berorientasi masyarakat yang dipublikasikan di sosial media instagram (@cikalCAS_exhibition) dan terbuka bagi publik untuk mengeksplorasinya. Puncak perayaan kegiatan CAS telah berlangsung secara langsung melalui youtube Sekolah Cikal dengan menghadirkan 8 perwakilan murid yang akan berbagi cerita, tantangan dan pengalaman menjalankan proyek masing-masing.


(salah satu sesi Project Talk Murid Sekolah Cikal Setu melalui Youtube Channel secara live pada (5/2). Doc. Sekolah Cikal)


Nisa menjelaskan bahwa semua aksi pelayanan masyarakat dilakukan dan diinisiasi oleh murid sendiri sesuai dengan tema yang mereka sukai, baik itu seni, pendidikan, dan lain sebagainya. Jadi, peran guru terletak pada pendampingan dan mengingatkan kesehatan selama pandemi.


“Mengingat CAS adalah program yang memang harus diinisiasi oleh murid berdasarkan hal hal yang mereka sukai, peran saya sebagai program leader bersama teman-teman guru yang lain adalah mengarahkan anak-anak untuk memilih project berdasarkan learning outcome CAS, berdiskusi dengan anak-anak mengenai ide atau tantangan, dan mengingatkan anak-anak untuk tetap mengutamakan kesehatan. “ jelas Nisa. 


Dari Lakukan Aksi Melalui Hobi, hingga Berkontribusi di Festival Literasi


Murid Sekolah Cikal Setu menghadirkan aksi yang beragam sebagai upaya melakukan aksi, dan berkontribusi bagi sesama manusia di Cikal CAS tahun ini. Beberapa aksi antara lain, We are human being, Collaborative work dengan berbagai perusahaan atau studio, Bincang Kreatif, hingga Festival Literasi Ende.


We are Human Being merupakan sebuah aksi proyek CAS sederhana, namun bermakna. Proyek yang diinisiasi oleh Devano Athallah Basyir bermula dari memaknai arti berbagi pada sesama sebagai manusia melalui hobi dan kreativitasnya kepada anak-anak yatim piatu kala pandemi.


(Proyek We are Human Being merupakan satu dari 33 Aksi CAS Sekolah Cikal Setu. Berbekal esensi menjadi manusia yang memaknai arti berbagi kebahagian dengan cara sederhana. Doc. Sekolah Cikal)


“Proyek We are a human being hadir dalam benakku dimulai dari refleksi arti berbagi. Berbekal kompetensi memasak yang aku miliki, aku hadirkan gagasan berbagi itu dengan membuat sesuatu yang sederhana dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim piatu di masa pandemi ini.” tutur murid yang akrab disapa Devano.


Ada juga karya CAS Azzahra Thursina Nisfu yang menciptakan sebuah webinar “Bincang Kreatif” terbuka bagi publik dan membahas tentang tema hidupnya industri kreatif digital saat pandemi bersama salah satu influencer youtube, Sacha Stevenson.


(Acara Bincang Kreatif, salah satu aksi CAS yang dibuat oleh Azzahra Thursina Nisfu. Doc. Sekolah Cikal)



Selain Devano dan Azzahra, ada pula Radja Anam yang mengangkat tema pendidikan pada aksi CASnya dan dilakukan sebelum pandemi hadir. Ia berpartisipasi sebagai volunteer yang turut mengatur pelaksanaan acara Festival Literasi di pulau Ende Nusa Tenggara Timur dan berdonasi buku kepada Taman Bacaan Pelangi untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak di pulau Ende.

“Saya berpartisipasi secara sukarela di kegiatan Festival Literasi yang dibuat oleh Taman Bacaan Pelangi di Ende Nusa Tenggara Timur, dan ikut andil dalam pengumpulan donasi buku untuk Taman Bacaan pelangi bagi anak-anak di sana untuk menumbuhkan keinginan dan akses buku bacaan serta pengembangan pendidikan anak-anak.” tutur Radja dalam sesi Project Talk di Youtube Sekolah Cikal pada (5/2)


(Aksi Sukarela Radja Anam di Festival Literasi Ende sebagai proyek CASnya sebelum masa Pandemi (2020). Doc. Sekolah Cikal)


Bagi Nisa, selaku CAS Coordinator, program CAS ini pada akhirnya adalah sebuah cara dari Sekolah Cikal Setu untuk IB Program bagi kelas 12 untuk menumbuhkan kemandirian, memahami serta peduli terhadap isu yang terjadi di sekitar sebagai manusia yang berdaya, dan pada akhirnya menjadi pemimpin yang memiliki kompetensi dan bertanggung jawab.


Penasaran dengan proyek CAS lainnya dari murid Sekolah Cikal Setu? Sila kunjungi sosial media instagram (@cikalCAS_exhibition) untuk lebih lengkapnya! (*)



ENROLL NOW