3 Bentuk Resiliensi Ibu dan Ayah dalam Keluarga dengan ABK

Durasi Waktu Baca: 3 Menit



Bandung, Sekolah Cikal Bandung. Resiliensi suatu keluarga, termasuk keluarga dengan anak berkebutuhan khusus mulai terbangun dari dua sosok yang selalu berupaya terbaik mendukung optimalisasi tumbuh kembang, yakni sosok Ayah dan sosok Ibu. Keduanya menjadi sosok yang berjuang untuk menguatkan ketahanan keluarga dan mendukung pemenuhan kebutuhan kehidupan anak dengan kebutuhan khusus dan saudara sekandungnya.


Pendidik Sekolah Cikal Bandung yang juga merupakan Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Bandung, Dea Novitasari, menyebutkan bahwa resiliensi keluarga secara umum atau secara spesifik keluarga dengan anak berkebutuhan khusus sejatinya memiliki cerita yang berbeda sehingga peranan Ibu dan Ayah pun dijalani dengan kata kunci sama-sama belajar dan membangun resiliensi keluarga sebagai satu tim.


Seperti apa gambaran membangun resiliensi sebagai satu tim dari peran Ayah dan Ibu dalam keluarga dengan anak berkebutuhan khusus? Simak penjelasannya berikut.



  • Ibu dan Ayah dalam Keluarga dengan ABK Saling Mendukung

Dea menuturkan bahwa dalam proses menumbuhkan resiliensi keluarga sosok Ayah dan Ibu menjadi sosok-sosok yang sedang belajar karena belum pernah menjalani peran yang diembannya.

“Menurut saya, setiap keluarga memiliki cerita yang berbeda, jadi tidak ada satu gambaran yang bisa mewakili semua ayah dan ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Namun, ada satu hal yang sering saya temui, yaitu keduanya sama-sama sedang belajar menjalani peran yang mungkin sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.” ujarnya.

Tak hanya saling belajar, sosok Ayah dan Ibu juga berupaya saling mendukung dengan memegang peran masing-masing, dari pendampingan sehari-hari, hingga memastikan setiap kebutuhan keluarga terpenuhi. Peran yang dijalankan memang tidak selalu sama, tetapi peran tersebut, menurut Dea, saling melengkapi.

“Bagi sebagian ibu, mereka lebih banyak terlibat dalam pendampingan sehari-hari. Mulai dari menemani anak belajar, terapi, mengatur rutinitas, sampai memahami perubahan-perubahan kecil pada perkembangan anak. Di sisi lain, banyak ayah yang berusaha memastikan keluarga tetap memiliki rasa aman, baik secara emosional maupun dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, di banyak keluarga juga kita melihat peran itu saling melengkapi dan tidak selalu sama. Yang terpenting adalah keduanya saling mendukung.” jelasnya.

Baca Juga :2 Peran Penting Saudara Sekandung untuk Optimalisasi Hidup Anak Berkebutuhan Khusus 




  • Ibu dan Ayah dalam Keluarga dengan ABK Sadar Harus Terus Belajar

Penting untuk diingat menurut Dea bahwa dalam prosesnya setiap Ayah dan Ibu yang mengupayakan segala yang terbaik bagi anaknya, khususnya anak dengan kebutuhan khusus akan merasa bingung, lelah, dan khawatir. Tetapi, dari rasa lelah inilah sejatinya kesadaran dari orang tua untuk terus belajar bersama tumbuh.

“Dalam prosesnya, tentu ada masa-masa ketika orang tua merasa lelah, bingung, atau bahkan mempertanyakan apakah mereka sudah melakukan yang terbaik. Menurut saya, itu adalah bagian yang sangat manusiawi. Resiliensi bukan muncul karena mereka tidak pernah merasa lelah, tetapi karena mereka terus belajar menyesuaikan diri dengan setiap tahap perkembangan anak.” ucapnya.

Dari kesadaran untuk terus belajar itulah, orang tua, menurut Dea akan menyadari bahwa mereka tidak perlu sendirian mengupayakan resiliensi keluarga dan perlu dukungan dari pihak lain yang sejalan visi-misi, serta berkenan mendukung pengembangan diri mereka serta anak-anak sebagai keluarga yang berupaya tumbuh dengan resiliensi di kehidupan.

“Yang sering membantu orang tua membangun ketahanan adalah ketika mereka mulai menyadari bahwa mereka tidak harus menjalani semuanya sendirian. Mereka mulai membangun komunikasi dengan pasangan, berdiskusi dengan guru, terapis, atau bergabung dengan komunitas orang tua yang memiliki pengalaman serupa. Dari sana mereka menyadari bahwa setiap keluarga memiliki tantangannya masing-masing dan tidak ada orang tua yang harus menjadi sempurna.” jelasnya.

Baca Juga : Bukan Membebani atau Bergantung, Ini Makna Bangun Kelekatan ABK dengan Saudara Kandung!




  • Ibu dan Ayah dalam Keluarga dengan ABK Berjalan Sebagai Satu Tim

Sebagai koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Bandung, Dea menyampaikan bahwa resiliensi Ibu dan Ayah dalam keluarga dengan anak berkebutuhan khusus bukan tentang siapa yang lebih kuat hadapi tantangan dalam bermasyarakat, melainkan bagaimana sosok Ayah dan Ibu bisa berjalan sebagai Satu tim yang akan siap menghadapi berbagai tantangan dan mendampingi anak mencapai kebutuhannya.

“Pada akhirnya, menurut saya resiliensi ayah dan ibu bukan tentang siapa yang lebih kuat. Resiliensi tumbuh ketika keduanya bisa saling menguatkan, saling memahami, dan berjalan sebagai satu tim. Ketika keluarga merasa tidak berjalan sendiri, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan terus mendampingi anak sesuai dengan kebutuhannya.” imbuhnya.(*)

Baca Juga : Mengenal Visual Art Vocational Program Bagi ABK di Sekolah Cikal




Informasi Cikal Support Center


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs 




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Dea Novitasari, Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Bandung 

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED