Kesulitan Saat Asah Kemandirian Anak? Orang Tua, Coba 3 Tips ini!

Kesulitan Saat Asah Kemandirian Anak? Orang Tua, Coba 3 Tips ini dari Pendidik Sekolah Cikal Bandung

Durasi Waktu Baca : 2 Menit



Bandung, Sekolah Cikal Bandung. Proses belajar anak di rumah adalah pendidikan awal atau pertama yang dirasakan anak sebelum mengeyam pendidikan di jenjang yang lebih formal, misalnya PAUD, TK dan/atau SD. Anak akan belajar lebih banyak dari orang tuanya dengan cara mengamati dan mempraktikannya. 

Dwi Ayun Pratiwi, Pendidik Sekolah Cikal Bandung, menyebutkan bahwa orang tua merupakan figur utama yang sangat penting dalam menumbuhkan kemandirian pada anak di rumah. Orang tua juga dalam hal ini perlu berkolaborasi bersama menghadapi berbagai macam tantangan dalam proses mengasah kemandirian anak. 


(Sekolah Cikal Bandung menumbuhkan kemandirian anak sejak dini. Dok. Cikal)

Namun, bilamana menghadapi kesulitan, berikut tips yang dapat dilakukan untuk atasi kesulitan asah kemandirian anak berikut ini!




Pertama, Mulai dari Aksi Sederhana Secara Konsisten

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menerapkan pembelajaran dari aksi-aksi sederhana secara konsiten. Misalnya, membiasakan anak sejak usia 3-4 tahun untuk merapikan mainan, membiasakan anak perlahan makan sendiri, dan membiasakan anak mengenakan sepatu sendiri. 

Tantangan yang dihadapi orang dewasa akan selalu ada. Dalam hal ini, orang dewasa di sekitar kita (baik Bapak dan Ibu) harus tetap konsisten dalam mengajarkan kepada anak. Lakukan pembelajaran dari hal yang sederhana dulu, sesuai dengan porsinya. Dalam mengajarkan kemandirian pada anak secara konsisten, orang tua dapat berkolaborasi dengan orang dewasa lainnya, misalnya kakek-nenek, serta caregiver.” ucapnya.




 


Kedua, Pahami Anak Berproses dalam Belajar Mandiri

Langkah kedua dalam menghadapi tantangan atau kesulitan dalam mengasah kemandirian anak adalah dengan menyadari dan memahami bahwa setiap anak membutuhkan waktu dan fase yang berbeda untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri. 

“Orang tua perlu menyadari bahwa setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk belajar mandiri dan berani mengemukakan pendapatnya.” tuturnya. 




Ketiga,  Apresiasi Setiap Progres dan Lakukan Refleksi Bersama

Langkah ketiga yang dapat dilakukan adalah mengapresiasi setiap progres dan pengembangan diri yang diupayakan oleh anak.

“Para orang tua harus dapat memberikan apresiasi atas setiap progress yang telah diusahakan oleh anak, tak hanya itu, orang tua dapat lakukan refleksi bersama pada kegiatan yang telah dilakukan dengan anak.” tambahnya. 


Contoh apresiasnya dapat berupa ungkapan terima kasih dan pujian sederhana, seperti misalnya, "Wah, terima kasih ya Nak sudah merapikan mainan dengan baik, kaka hebat sekali!" atau "Wah rapi sekali ya kaka membereskan mainannya, Ibu bangga sekali."


Dari apresiasi dan juga refleksi bersama orang tua bersama dengan anak, tentu rasa percaya diri anak secara bertahap akan tumbuh dalam dirinya. Kepercayaan diri inilah yang seiring waktu akan semakin mendorong anak untuk terus melakukannya.” imbuhnya. (*)





Informasi Cikal Support Center 

Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut :+62 811-1051-1178




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Dwi Ayun Pratiwi, Pendidik Sekolah Cikal Bandung 

Ibu Dwi merupakan pendidik di Sekolah Cikal Bandung yang telah mengenyam pendidikan di bidang Sastra untuk jenjang Strata 1 dan pengembangan Sumber Daya Manusia untuk jenjang Strata 2 di Universitas Airlangga. 


Ia telah mendalami dunia pendidikan sejak 2016 sebagai fasilitator pembelajaran Bahasa Inggris, Pendidik di jenjang TK, dan kini di jenjang Sekolah Dasar. 


  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED