3 Gambaran Lingkungan Ideal untuk ABK Tumbuh dengan Resiliensi

Durasi Waktu Baca : 2 Menit



Jakarta, Sekolah Cikal Kemang. Anak berkebutuhan khusus di dalam kehidupan dapat berkembang dengan optimal bila dalam kesehariannya ia dibersamai oleh lingkungan ideal yang mendukungnya berkembang dan tumbuh resilien secara bertahap.


Debby Ashari, Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Kemang, menjelaskan bahwa membangun resiliensi anak dengan kebutuhan khusus dapat dimulai dari keluarga. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan lingkungan yang memberikan tiga gambaran ideal, antara lain menerima dirinya apa adanya, menghargai setiap proses perkembangannya, dan memberikan kesempatan untuk belajar mandiri sesuai kemampuannya.


Seperti apa penjelasan lebih detailnya mengenai gambaran lingkungan ideal untuk ABK tumbuh dengan resiliensi dalam keseharian? Simak penjelasannya berikut.




  1. Lingkungan yang Menerima ABK Apa Adanya


Anak dengan kebutuhan khusus memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang dari keluarga terdekatnya, dan lingkungan lainnya yang dapat menerima keunikannya apa adanya. Dalam hal ini, sibling atau saudara sekandung ABK memiliki peranan penting untuk menghadirkan lingkungan yang menerima ABK apa adanya. 


“Peran sibling dan orang tua sangat penting dalam menghadirkan lingkungan yang menerima ABK apa adanya. Sibling dapat menjadi saudara yang mendukung, mengajak bermain dan berinteraksi, serta memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda. Sementara itu, keluarga dapat membangun resiliensi dengan terus belajar tentang kebutuhan anak, menjalin komunikasi yang baik dengan sekolah dan tenaga profesional.” jelasnya.

Baca Juga : 





  1. Lingkungan yang Memberikan Kesempatan Belajar Mandiri Sesuai Kemampuan ABK

Lingkungan kedua yang dapat menjadi lingkungan yang ideal untuk ABK berkembang menjadi individu yang memiliki resiliensi adalah lingkungan yang memberikan kesempatan  belajar mandiri, dalam hal ini, lingkungan sekolah.

Debby menuturkan  bahwa dalam praktiknya sekolah dapat memberikan ruang aman yang tak hanya menerima anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar, tetapi juga memberikan ekosistem agar ABK dapat belajar dan berkembang sesuai dengan kebutuhannya.

“Sekolah inklusi, seperti Sekolah Cikal, selalu berupaya menjadi sekolah yang tidak hanya menerima anak berkebutuhan khusus, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung seluruh keluarga. Bagi kami, inklusivitas bukan sekadar membuka akses, tetapi memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang sesuai kebutuhannya.” jelas Debby.

Menghadirkan lingkungan yang mendukung ABK memiliki ruang untuk belajar mandiri dapat diwujudkan dengan menghadirkan pembelajaran yang dipersonalisasi dan kolaborasi yang dibangun antara sekolah dan keluarga untuk menetapkan target pengembangan diri anak  bersama.

“Sekolah Cikal dalam hal ini menggerakkan upaya nyata untuk menghadirkan lingkungan yang memberikan kesempatan belajar untuk anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar dengan mandiri melalui pembelajaran yang dipersonalisasi, kolaborasi yang erat antara guru dan orang tua, serta komunikasi yang rutin untuk menyusun target perkembangan anak secara bersama. Kami juga terus membekali guru agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai keberagaman, dan responsif terhadap kebutuhan setiap anak.” tambahnya.

Baca Juga : Sekolah Cikal Dukung Pengembangan Resiliensi Keluarga dengan ABK melalui Pendekatan Keluarga di Sekolah




  1. Lingkungan yang Menghargai Proses Perkembangan ABK

Lingkungan ideal yang dapat menjadi ruang bagi ABK untuk berkembang menjadi individu yang memiliki resiliensi secara bertahap dalam proses hidupnya adalah lingkungan yang menghargai proses perkembangan ABK. 

Debby menuturkan bahwa lingkungan yang menghargai proses perkembangan anak tercermin dari upaya sebuah ekosistem pendidikan/sekolah untuk membangun budaya sekolah yang penuh empati dan saling menghargai, sebagaimana yang Cikal lakukan.

“Lingkungan yang menghargai proses perkembangan ABK dapat tercermin dari adanya upaya untuk membangun budaya sekolah yang penuh empati. Di Cikal, kami juga berupaya membangun budaya sekolah yang menumbuhkan empati dan rasa saling menghargai, sehingga bukan hanya anak berkebutuhan khusus yang belajar, tetapi seluruh komunitas sekolah belajar hidup dalam keberagaman.” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa membentuk lingkungan yang menghargai proses perkembangan ABK merupakan proses yang terus berkembang dan berkelanjutan. Langkah yang dilakukan tentu dengan mendengarkan masukan, melakukan perbaikan, dan memberikan dukungan kepada ABK, saudara kandung anak dengan kebutuhan khusus, dan keluarga dengan ABK.

“Kami  menyadari bahwa membangun sekolah yang benar-benar inklusif adalah sebuah proses yang terus berkembang. Oleh karena itu, Sekolah Cikal dalam hal ini meneguhkan komitmen untuk terus belajar, mendengarkan masukan dari keluarga, dan melakukan perbaikan agar dapat memberikan dukungan yang semakin baik bagi anak, sibling, maupun keluarganya agar dapat menciptakan lingkungan yang menghargai proses perkembangan dari ABK.” imbuhnya.(*)

Baca Juga : Pentingnya Keluarga dengan ABK Miliki Partner Pendukung Resiliensi Keluarga dan Ruang Lingkupnya 




Informasi Cikal Support Center


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs 




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Debby Ashari, Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Kemang

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED