Durasi waktu baca : 3 menit Jakarta, Sekolah Cikal Lebak Bulus. Menjadi saudara berkebutuhan khusus dapat menghadirkan beragam pengalaman emosional yang perlu dipahami dan didampingi. Mulai dari rasa sayang, keinginan untuk melindungi, cemburu, hingga rasa malu. Menurut Rr. Anjarsari, atau yang hangat disapa Anjar, Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus jenjang SMP-SMA, menjelaskan bahwa wajar jika saudara-sekandung ABK mengalami emosi yang kompleks terhadap kehadiran saudara ABK-nya dan berbagai perasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman yang dapat dialami setiap individu dan perlu mendapatkan ruang untuk dipahami, bukan sekadar dipendam. Lantas, bagaimana gambaran emosi yang dapat dirasakan saudara-sekandung ABK? Dan bagaimana peran orang tua dalam membantu mereka mengenali serta meregulasi emosinya? Simak penjelasan berikut! Baca juga : Sekolah Cikal Dukung Pengembangan Resiliensi Keluarga dengan ABK melalui Pendekatan Keluarga di Sekolah Anjar menjelaskan bahwa menjadi saudara kandung dari anak berkebutuhan khusus dapat membuat seseorang merasakan berbagai emosi yang kompleks. Mulai dari perasaan ingin melindungi, bingung, hingga sering kali cemburu melihat orang tuanya menaruh perhatian lebih pada saudaranya yang spesial. “Individu yang memiliki saudara-sekandung ABK dapat merasakan berbagai emosi yang terkadang terasa kompleks, baik itu berkaitan dengan dirinya sendiri maupun saudara ABK-nya. Mulai dari khawatir dengan kondisi dirinya dan saudaranya, merasa kurang diperhatikan orang tua, hingga malu atau sulit menjelaskan kondisi saudaranya. Tetapi, beberapa individu juga merasa sangat sayang dan bertanggung jawab terhadap saudaranya.” kata Anjar. Baca juga : Pentingnya Keluarga dengan ABK Miliki Partner Pendukung Resiliensi Keluarga dan Ruang Lingkupnya Emosi kompleks yang dirasakan oleh saudara-sekandung Anak Berkebutuhan Khusus membuat peran orang tua begitu penting dalam mendampingi saudara-sekandung memahami dan meregulasi emosinya. Hal ini diupayakan agar saudara-sekandung ABK tidak merasa sendirian dan tetap mendapat perhatian secara penuh. “Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dan positif agar dapat saling memahami dan menguatkan satu sama lain. Orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan sibling tanpa menghakimi, menyalahkan, atau membandingkan perasaannya dengan kondisi saudaranya. Orang tua juga sebaiknya memastikan tiap anak mendapat kasih sayang dan perhatian setara tanpa membandingkan satu sama lain.” tutup Anjar.(*) Baca juga : 3 Bentuk Resiliensi Ibu dan Ayah dalam Keluarga dengan ABK Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal Narasumber : Rr Anjarsari, Koordinator Pendidikan Inklusi Cikal Lebak Bulus Jenjang SMP-SMA Editor : Salsabila Fitriana Penulis : Rahma YuliaGambaran Emosional Saudara Sekandung Anak Berkebutuhan Khusus
Peran Orang Tua Sebagai Sandaran Saudara Sekandung ABK
Informasi Cikal Support Center