Orang tua, Ternyata ini Alasan Penting dan Pertimbangan Sekolahkan Sejak Usia Bayi!


Jakarta, Rumah Main Cikal. Setiap orang tua memiliki pertimbangan yang berbeda mengenai kapan tepatnya menyekolahkan anak, apa tujuannya hingga manfaatnya. Namun, seiring waktu berjalan, orang tua masa kini yang lebih didominasi oleh generasi milenial semakin menyadari pentingnya pendidikan anak sejak bayi.


Pendidik Rumah Main Cikal yang juga merupakan ahli di bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Christopora Intan Himawan Putri, S.Pd M.Psi T menyatakan bahwa secara esensial anak-anak usia dini sejak bayi wajib memperoleh stimulasi pendidikan dan dimulai dari komunitas keluarga sebagai langkah menstimulasi. Namun, dalam beberapa kondisi pendidikan anak usia bayi akan lebih direkomendasikan ke lembaga, atau pendidik yang lebih ahli.


(Rumah Main Cikal menyediakan program pendidikan untuk usia bayi-bayi dan adik-adik dengan rentang usia 6 Bulan hingga 24 Bulan. Doc. Rumah Main Cikal)




Tiga Pertimbangan Sekolahkan Anak Sejak Bayi


Sebagai ahli PAUD, pendidik yang akrab disapa Tante Intan juga menjelaskan beberapa pertimbangan yang harus dimiliki oleh orang tua saat ini menyekolahkan anak sejak bayi, antara lain,


Pertama, Harus Disesuaikan dengan Kebutuhan Anak. 


Menurut Intan, menyekolahkan anak usia bayi-bayi dengan pendampingan program khusus dan pendampingan pendidik harus disesuaikan dengan kebutuhan anak.


“Pendidikan anak usia dini wajib dimulai sejak bayi, di mana stimulasi untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dimulai dari komunitas keluarga. Namun, jika pertanyaannya, apakah anak bayi wajib distimulasi dengan program khusus dan bantuan dari tenaga pendidik lainnya maka jawabannya adalah menyesuaikan dengan kebutuhan dari anak dan juga lingkungan utamanya.” tutur Intan.


Kedua, Tidak Memiliki Rutinitas Terarah Saat Orang Tua Bekerja 


Intan juga menerangkan bahwa apabila anak tidak memiliki rutinitas terarah dalam keseharian saat orang tua bekerja maka sekolah sejak bayi menjadi opsi yang tepat untuk optimalkan tumbuh kembang anak.


“Jika kedua orang tua bekerja kemudian anak diasuh dengan bantuan kakek nenek atau pengasuh lainnya serta tidak memiliki rutinitas yang terarah maka sekolah sejak bayi dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.” ucapnya.


Ketiga, Penuhi Kebutuhan Sosialisasi Sejak Bayi


Apabila orang tua dengan anak bayi sudah memahami bahwa kebutuhan anak bersekolah itu penting maka anak wajib untuk disekolahkan untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasinya. Kebutuhan sosialisasi ini semakin disadari oleh para orang tua dari generasi milenial yang bekerja dan atau memang membutuhkan mitra. 


“Seiring bertambahnya usia, kebutuhan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan untuk “bersekolah”. Tidak hanya orang tua yang bekerja penuh waktu (full time), orang tua yang membutuhkan mitra untuk tumbuh kembang pun juga bisa menyekolahkan anak sejak dini.” jelas Intan.


Program Bayi-Bayi Bangun Pondasi Percaya Diri 

Intan juga menceritakan bahwa dengan sudah semakin sadarnya menyekolahkan anak sejak usia bayi, orang tua muda banyak memilih program atau kelas Bayi-Bayi (6 bulan hingga 12 bulan) dan Adik-Adik dari usia 10 Bulan hingga 24  Bulan di Rumah Main Cikal.

“Rumah Main Cikal sendiri menyediakan program belajar berbasis bermain yang dapat membantu orang tua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Pada Kelas Bayi-Bayi dan Adik-Adik, program yang dibuat bertujuan untuk melekatkan hubungan dan relasi antara anak dan pendamping.” jelas Intan. 

(Program bayi-bayi dan adik-adik ditujukan untuk membangun pondasi percaya diri. Dok. Rumah Main Cikal)

Ia juga menambahkan bahwa di usia bayi-bayi dan adik-adik peranan pendamping atau orang tua menjadi penting untuk pondasi rasa percaya diri anak, sehingga keterlibatan orang tua selalu terjadi di setiap sesi bermain sambil belajar.

“Maka dari itu, pada jenjang ini peranan pendamping cukup besar untuk terlibat serta relasi yang kuat ini dimaknai oleh Rumah Main Cikal melalui Dimensi Peduli di mana kelekatan antara anak dan pendamping menjadi pondasi untuk rasa percaya diri anak di kemudian hari.” tutupnya (*)


I'M INTERESTED