Cara Sekolah Cikal Sebagai Sekolah Inklusi Mengasah Kecerdasan Emosional Anak : Ada Program Khusus yang Jadi Favorit Anak-Anak!

Durasi Waktu Baca : 3 Menit 40 Detik 



Jakarta, Sekolah Cikal. Menghadirkan lingkungan yang aman dan nyaman tanpa perundungan menjadi sebuah komitmen yang harus dijalankan bagi setiap sekolah inklusi di Indonesia. 


Sebagai sekolah inklusi yang kini berada di beberapa kota, Sekolah Cikal tidak hanya menggaungkan gerakan anti bullying melalui aktivitas dan programnya di sekolah, melainkan juga menghadirkan cara-cara mengasah kecerdasan emosional anak untuk pengembangan dirinya dalam berinteraksi dengan sebayanya. 


Baca Dulu : Pahami Arti dan Pentingnya Memahami Kecerdasan dalam Diri Anak Sejak Dini


Ahli Psikologi Klinis Anak, Winny Suryania yang merupakan konselor di Sekolah Cikal pun menceritakan bahwa dalam praktik keseharian Sekolah Cikal menerapkan beberapa  cara untuk mengasah kecerdasan emosional anak agar menjadi pribadi yang utuh, berdaya, dan peduli terhadap sesama temannya, sebagai berikut. 


  • Pertama, Hadirkan Program PSE (Personal, Social, and Education)


Di Sekolah Cikal, pemetaan dan pendampingan psikologis bagi setiap anak di berbagai jenjang menjadi salah satu hal yang utama dan khas. Sekolah Cikal pun menghadirkan program PSE (Personal, Social, and Education), program yang dikhususkan untuk memahami dan mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional serta kesehatan mental anak anak sejak dini. 


“Untuk kegiatan kelas, kami memiliki program homeroom dan PSE, yang mana dikegiatan ini konselor sekolah dan guru homeroom berkolaborasi bersama untuk membuat aktivitas-aktivitas dikelas yang membantu anak untuk memahami kondisi emosional mereka sendiri. Kegiatan dibuat sesuai level usia dan kebutuhan anak masing-masing.” ucap Winny. 


Menghadirkan banyak aktivitas turunan yang dilakukan bersama pendidik atau konselor, program ini bertujuan untuk mengenal diri masing-masing, dari hal-hal yang mereka sukai/menimbulkan rasa senang, dan kegiatan yang kurang mereka sukai atau menimbulkan rasa tidak nyaman. 


“Kami mengajak anak-anak untuk menyadari kondisi kesehatan mental mereka dengan memahami perasaan dan mengekpresikannya melalui kata, simbol dan perilaku. Pembelajaran kecerdasan emosional ini dimulai dari proses individu itu sendiri, kemudian diaplikasikan kepada kelompok kecil dan nantinya dapat memberi pengaruh positif untuk kelompok secara besar. “ tutur Psikolog yang akrab disapa murid di sekolah dengan sebutan Miss Winny. 


Baca Juga : Bukan Sekolah Berbasis Agama, Berikut 3 Cara Sekolah Cikal Terapkan Pendidikan Agama dalam Proses Belajar dan Interaksi!

  • Kedua, Gerakkan Layanan Konseling Bersama Anak Secara Berkala


Hal kedua yang menjadi cara sekolah Cikal adalah dengan menggerakkan secara berkala layanan konseling nyaman dan aman bersama anak-anak. 


“Di Cikal sendiri kami memiliki kegiatan diskusi bersama atau layanan konseling dengan anak-anak. Pada kegiatan ini garis besarnya anak-anak diajak untuk melakukan sesi refleksi kegiatan di sekolah, mulai dari cek kondisi sosial-emosional siswa, mengulas kegiatan harian (untuk anak-anak berkebutuhan khusus), observasi kelas berkala, dan mengisi jurnal harian terkait permasalahan atau kegiatan yang pada hari itu dialami dengan anak (untuk anak-anak berkebutuhan khusus biasanya akan lebih spesifik).” jelas Winny. 


  • Ketiga, Observasi Berkala Tim Psikolog dan Konselor 


Dalam praktiknya kebutuhan anak di setiap jenjang akan berbeda-beda, sehingga tim psikolog dan konselor di Sekolah Cikal akan selalu melakukan pengawasan dan pemetaan kembali secara berkala terhadap kecerdasan emosional anak. 


“Memahami bahwa usia dan kebutuhan anak berbeda-beda maka konselor pun memiliki tim yang mana kami bagi sesuai level perkembangan anak. Dalam keseharian kami tentunya melakukan observasi berkala secara kelompok besar (di kelas) dan observasi secara individu. Tidak lepas juga kolaborasi bersama homeroom dan guru program juga merupakan kunci keberhasilan dalam pendampingan anak dalam menghadapi tantangan pengelolaan emosi.” jelas Winny. 


Baca juga : Faktor-Faktor Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak dan Cara Mengoptimalkannya Sesuai Tahap Perkembangan!


Tahapan Observasi yang dilakukan oleh Tim Psikolog dan Konselor Sekolah Cikal 


  1. Pendidik setiap kelas akan berkoordinasi dengan tim Psikolog dan Konselor terkait kebutuhan pendampingan anak di kelas masing-masing. 

  2. Setelah observasi, tim psikolog dan konselor akan melakukan beberapa asesmen terhadap kondisi yang perlu ditangani atau dirujuk berkolaborasi dengan psikolog ahli luar sekolah. 

  3. Merujuk hasil observasi dan asesmen, tim psikolog dan konselor pun akan membangun komunikasi dengan orang tua dalam mendampingi tantangan pengembangan kecerdasan emosional anak. 


  • Keempat, Kolaborasi Pendampingan Bersama Orang Tua 


Kolaborasi pendampingan orang tua bersama dengan pendidik, konselor, dan anak tentu menjadi hal yang penting dalam upaya mengasah dan mengembangkan kecerdasan emosional anak. Kolaborasi pendampingan yang suportif akan memberikan dampak positif yang lebih banyak juga terhadap pengembangan kecerdasan emosional anak tentunya di mana pun ia berada. 


“Kolaborasi pendampingan bersama orang tua tentunya sangat penting sekali, karena dalam mendidik-mengembangkan potensi anak, dan membiasakan anak dengan hal-hal yang positif tentunya perlu dilakukan dengan konsisten di setiap aspek lingkungan anak. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk membuat keseimbangan emosi tetap terjaga. Selain saling memberikan informasi terkait kebutuhan dan perkembangan anak, tentunya caregiver anak-anak ini juga saling memberikan strategi yang berhasil dilakukan oleh anak. Sehingga anak juga dapat tumbuh dan berkembang dengan positif, percaya diri dan mendapat dukungan yang positif.” tutup Winny. (*)


Baca juga : 3 Cara Sekolah Inklusi Mempersiapkan Anak Berkebutuhan Khusus Untuk Pendidikan Lanjutan dan Pilihan Karir


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)


Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 


  • Narasumber : Winny Suryania, M.Psi, Psikolog 


Winny merupakan seorang psikolog klinis anak yang menyelesaikan pendidikan S1 Psikologinya di Fakultas Psikologi YAI dan melanjutkan jenjang S2 di Magister Profesi Psikologi Klinis Anak, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. 


Ia telah memiliki pengalaman dalam berpraktek selama di sekolah Cikal-Amri sebagai konselor murid-murid remaja untuk konsultasi perkembangan akademik sampai perkembangan emosional. Selain itu Winny juga praktek sebagai psikolog part-time di biro Kasaya dan LPSK. Winny  juga mendalami Art-therapy untuk membantu penanganan klien.


  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana 

I'M INTERESTED