Pahami Kecerdasan Emosional Anak dan Bentuk-Bentuknya dalam Praktik Keseharian!


DURASI WAKTU BACA : 2 MENIT, 26 DETIK 


Jakarta, Sekolah Cikal.  Setiap orang tua ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan emosional yang baik agar dapat membangun interaksi, mengindentifikasi dan memaknai kehadiran emosi-emosi yang ada dalam dirinya menjadi kebermanfatan bagi sesama manusia. 


Winny Suryania, M.Psi, Psikolog yang merupakan psikolog klinis anak dan juga konselor Sekolah Cikal Amri Setu menjelaskan mengenai pemahaman mengenai kecerdasan emosi anak dan faktor yang memengaruhinya, sebagai berikut. 

Pengertian dan Pemahaman Kecerdasan Emosional Anak


Winny menjelaskan bahwa kecerdasan emosional anak merupakan kemampuan dari seorang individu untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi dirinya sendiri, serta emosi orang lain. Namun, secara lebih khusus dalam praktiknya kecerdasan emosional anak akan mencakup beberapa keterampilan. 


“Kecerdasan emosional secara general mengacu pada kemampuan individu untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi diri sendiri, serta emosi orang lain. Kecerdasan emosional ini juga mencakup beberapa keterampilan, yaitu  memanfaatkan emosi itu dan menerapkannya dalam memecahkan masalah, mengelola emosi, yang mencakup mengatur emosi sendiri dan membantu orang lain melakukan hal yang sama.” ucapnya. 


Baca juga : Pahami Arti dan Pentingnya Memahami Kecerdasan dalam Diri Anak Sejak Dini


Bentuk-Bentuk Kecerdasan Emosional Anak 


Winny juga menambahkan bahwa dalam praktik keseharian terdapat 6 bentuk kecerdasan emosional anak yang dapat diamati oleh orang tua. Namun, tentu seiring waktu keterampilan ini akan berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya. 


6 Bentuk Kecerdasan Emosional anak 


keenam bentuk kecerdasan emosional anaktersebut antara lain sebagai berikut, 


  1. Mengembangkan kesadaran emosi mereka: sadar bahwa mereka dapat merasakan dan memiliki rasa. 

  2. Mengenali emosi dasar dengan menggambarkan perasaan serta menamai emosi, mereka akan belajar bagaimana menggunakan kosa kata emosional untuk menyampaikan perasaan mereka: marah, sedih, bahagia, jijik, takut, kaget.

  3. Berempati dengan perasaan orang lain: memahami bahwa orang lain juga memiliki rasa dan emosi yang sama. Untuk anak lebih kecil bisa diajarkan melalui buku cerita.

  4. Mengontrol dan mengelola emosi mereka, anak belajar (dan menerapkan pengetahuan) tentang kapan tepat untuk bertindak atau bereaksi ketika mereka merasakan sesuatu.

  5. Memahami apa yang menumbukan perasaan, baik dalam diri mereka sendiri maupun orang lain.

  6. Memahami hubungan emosi-perilaku, contoh kakak menangis karena ia sedih. 


BACA JUGA : Orang tua, Coba Cara Ini Untuk Mengasah Sosial Emosional Anak Saat Pandemi


Selain bentuk-bentuk yang dideskripsikan di atas, orang tua juga dapat melihat kecerdasan emosional anak dari momen ketika ia mengekspresikan dirinya. 


“Kita juga bisa melihat bahwa kecerdasan emosi pada anak mulai tumbuh ketika anak mengekpresikan dirinya melalui kata-kata atau perilaku, mau mendengarkan orang lain, dan mulai melakukan regulasi diri seperti ia akan mencoba menenangkan diri dengan mengatur nafasnya setelah menangis atau ketika merasa marah.” tambahnya. 



Nah, setelah membaca penjelasan dari Psikolog Winny, apakah sudah lebih memahami kan kini mengenai kecerdasan emosional anak dan bentuk-bentuknya? 


Kini tinggal mempraktikkannya untuk mengamati dan melakukan pendampingan bagi anak dalam setiap bentuk aksinya ya! Jika masih penasaran, simak artikel lainnya mengenai kecerdasan emosional anak di blog Cikal ya! (*)


Baca juga : Faktor-Faktor Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak dan Cara Mengoptimalkannya Sesuai Tahap Perkembangan!




Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 


  • Narasumber : Winny Suryania, M.Psi, Psikolog 

Winny merupakan seorang psikolog klinis anak yang menyelesaikan pendidikan S1 Psikologinya di Fakultas Psikologi YAI dan melanjutkan jenjang S2 di Magister Profesi Psikologi Klinis Anak, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. 


Ia telah memiliki pengalaman dalam berpraktek selama di sekolah Cikal-Amri sebagai konselor murid-murid remaja untuk konsultasi perkembangan akademik sampai perkembangan emosional. Selain itu Winny juga praktek sebagai psikolog part-time di biro Kasaya dan LPSK. Winny  juga mendalami Art-therapy untuk membantu penanganan klien.


  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana 



I'M INTERESTED