Tidak Memaksa, Ini 3 Upaya Cikal Amri Setu Ajarkan Murid Terpanggil Beribadah

3 Upaya Sekolah Cikal Amri Setu Ajarkan Murid Terpanggil Beribadah

Durasi Waktu Baca : 3  Menit



Jakarta, Sekolah Cikal Amri SetuMengenalkan agama sebagai landasan kehidupan dan membiasakan praktik baik beragama seperti beribadah ke gereja, vihara, kelenteng, hingga pura dan salat di masjid dibangun dalam keseharian tanpa paksaan. 

Mansur Solichan, pendidik agama di Sekolah Cikal Amri Setu, mengungkapkan bahwa dalam praktiknya, esensi melakukan ibadah sebagai pembiasaan bukanlah hal yang perlu dituntut untuk menyatakan seorang anak menjadi umat yang baik, melainkan hal yang perlu dibangun melalui teladan, pemahaman makna, pembiasaan hingga refleksi yang berkelanjutan. 

Bagaimana pemahaman mendalam di Sekolah Cikal Amri Setu untuk membiasakan murid dan komunitas sekolah beribadah tanpa memaksakan atau karena tuntutan? Simak penjelasannya berikut ini! 




  1. Ajak Memahami Konsep Ibadah dan Hubungannya dengan Karakter 

Mansur menyebutkan bahwa para pendidik semua agama di Sekolah Cikal Amri Setu membangun pemahaman mendasar bahwa beribadah dan pembentukan karakter atau akhlak manusia itu merupakan satu kesatuan. Jadi, memaksa murid untuk melakukan ibadah tidak dilakukan di Sekolah Cikal Amri Setu.

“Di Cikal Amri Setu, ibadah dan akhlak dipandang sebagai satu kesatuan dalam pembentukan karakter murid. Pendekatannya bukan dengan memaksa, tetapi melalui keteladanan, pembiasaan, pemahaman makna, pengalaman, dan refleksi.” jelasnya.

Baca Juga : 5 Cara Belajar Program Agama di Sekolah Cikal Amri Setu




  1. Ajak Memberdayakan Konteks Tentang Ibadah dan Sikap Manusia

Mansur menyebutkan bahwa murid juga diajak untuk melakukan refleksi mengenai alasan ibadah perlu dilakukan dengan penuh kesadaran dari dalam diri, bukan sekadar tuntutan atau kewajiban. Ia juga menghubungkan konteks perilaku manusia dengan ibadah yang saling berhubungan satu sama lain.

“Murid diajak memahami mengapa ibadah dilakukan dan nilai apa yang dibentuk melalui ibadah tersebut, sehingga ibadah diharapkan tumbuh sebagai kebutuhan dan kesadaran dari dalam, bukan sekadar kewajiban. Nilai yang diperoleh kemudian dihubungkan dengan perilaku sehari-hari, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan menghargai sesama.

Baca Juga : 6 Klub Pengembangan Diri yang Diinisiasi oleh Murid SMP-SMA Cikal Amri Setu




  1. Ajak Membangun Keberlanjutan dengan Melakukan Aksi Baik

Semua pendidik agama, baik dari agama Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, maupun Islam, mengajak setiap murid di Sekolah Cikal Amri Setu untuk membangun keberlanjutan dengan melakukan aksi baik yang sesuai dengan harapan murid. 

Dari upaya untuk membangun keberlanjutan dalam proses belajar ini, para murid diajarkan untuk memahami bahwa melakukan perbuatan yang baik sejatinya adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan beragama. Tak hanya itu, melakukan aksi baik sejatinya menjadi gambaran kedekatan dengan Tuhan sebagai pencipta.

“Untuk semua agama, bentuk ibadah mengikuti keyakinan masing-masing, sementara prinsip yang dibangun bersama adalah bahwa kedekatan dengan Tuhan tercermin dalam kebaikan kepada sesama. Dengan demikian, murid belajar bahwa beribadah dan berbuat baik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beragama.” imbuhnya.(*)

Baca Juga :  7 Potret Keikutsertaan Murid SMA Cikal Amri Setu di Kompetisi MUN Tingkat Jabodetabek hingga Internasional! 




Informasi Cikal Support Center


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs 




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Mansur Solichan, Pendidik Agama di Sekolah Cikal Amri Setu

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED