5 Cara Belajar Program Agama di Sekolah Cikal Amri Setu

Cara Belajar Program Agama Sekolah Cikal Amri Setu

Durasi Waktu Baca : 6 Menit



Jakarta, Sekolah Cikal Amri SetuDikenal sebagai sekolah yang mengakomodasi 5 agama nasional, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha, Sekolah Cikal Amri Setu menerapkan 5 cara belajar agama yang mendukung pengembangan pemahaman murid tentang konteks keagamaan yang lebih relevan dalam keseharian.

Mansur Solichan, Pendidik Agama di Sekolah Cikal Amri Setu, menjelaskan bahwa Sekolah Cikal Amri Setu menerapkan 5 cara belajar-mengajar khas Cikal, antara lain Memanusiakan Hubungan (Compassionate Connection), Memahami Konsep (Comprehensive Concept), Memberdayakan Konteks (Community Context), Memilih Tantangan (Challenging Choices), dan Membangun Keberlanjutan (Constructive Continuity). 

Bagaimana gambaran cara belajar murid-murid dan pengajaran guru di Sekolah Cikal Amri Setu? 




  1. Memanusiakan Hubungan dalam Proses Belajar Agama di Sekolah Cikal Amri Setu

Mansur menjelaskan bahwa cara memanusiakan hubungan (Compassionate Connection) dalam pembelajaran agama di Sekolah Cikal Amri Setu diterapkan dalam interaksi dan keteladanan yang penuh empati sebagai sesama manusia. 

“Di Cikal Amri Setu, memanusiakan hubungan dalam pembelajaran agama diwujudkan dengan menumbuhkan nilai-nilai agama melalui interaksi yang empatik, keteladanan, dialog, dan sikap saling menghargai antara murid, guru, dan keluarga.” ucapnya. 

Dari sisi guru atau pendidik, setiap pendidik agama berupaya mengenali murid secara utuh dalam proses belajar agama dari pengalamannya, pertanyaannya, kebutuhannya, hingga latar belakangnya dalam memahami agama. Semua bentuk pendampingan diakomodasi agar murid dapat mengemukakan pandangannya mengenai makna belajar agama tanpa merasa dihakimi.

“Guru berusaha mengenali murid secara utuh, termasuk pengalaman, pemahaman, pertanyaan, kebutuhan, dan latar belakangnya. Murid diberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan hal-hal yang belum dipahami tanpa merasa dihakimi.” tambahnya.

Ilustrasi Contoh Penerapan Cara Memanusiakan Hubungan

Guru dalam praktik belajar mendorong murid untuk melakukan refleksi atas setiap pengalaman beribadah nyata dalam diri murid untuk mendorong internalisasi nilai dan makna agama dalam dirinya.

Dalam pembelajaran, nilai agama dihubungkan dengan pengalaman nyata murid. Misalnya, saat membahas doa, ibadah, kasih sayang, atau kejujuran, guru mengajak murid merefleksikan pengalaman mereka melalui pertanyaan seperti: 

  • “Pernahkah kamu mengalami hal ini?”,

  •  “Apa yang kamu rasakan?”

  • dan “Bagaimana nilai ini dapat kamu praktikkan kepada orang lain?




  1. Memahami Konsep dalam Belajar Agama di Sekolah Cikal Amri Setu


Cara kedua yang diterapkan dalam proses belajar agama di Cikal Amri Setu adalah dengan memahami konsep (Comprehensive Concept). Cara ini memusatkan proses belajar pada pemahaman makna, tujuan, dan nilai yang terkandung dalam setiap ajaran, doa, kitab suci, dan ibadah.

“Di Cikal Amri Setu, memahami konsep dalam pembelajaran agama berarti murid tidak hanya menghafal ajaran, doa, ayat, kitab suci, atau tata cara ibadah, tetapi memahami makna, tujuan, dan nilai yang terkandung di dalamnya serta mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.” jelas Mansur.

Guru menerapkan pengajaran juga dengan berbagai pemantik untuk mendalami konsep hingga mencapai refleksi yang penuh makna sesuai dengan agama setiap murid.

“Guru memberikan ruang bagi murid untuk mengeksplorasi konsep melalui pertanyaan, diskusi, kajian teks keagamaan, studi kasus, praktik, dan refleksi sesuai dengan agama masing-masing.” ucapnya.

Ilustrasi Contoh Penerapan Cara Memahami Konsep

Ketika mempelajari kejujuran, murid tidak hanya menghafal ajaran tentang kejujuran, tetapi diajak memahami mengapa kejujuran penting, bagaimana nilai tersebut diajarkan dalam agamanya, dan bagaimana menerapkannya ketika menghadapi situasi nyata, seperti mengerjakan tugas, menghadapi kesalahan, atau menggunakan media sosial.

Dengan demikian, proses belajar bergerak dari “tahu apa yang diajarkan agama”, “memahami maknanya”, hingga “mampu menggunakannya dalam kehidupan.”

Baca Juga : 6 Klub Pengembangan Diri yang Diinisiasi oleh Murid SMP-SMA Cikal Amri Setu




  1. Memilih Tantangan dalam Belajar Agama di Sekolah Cikal Amri Setu

Cara ketiga yang diterapkan di Sekolah Cikal Amri Setu adalah memilih tantangan. Dengan cara ini, pendidik atau guru akan memberikan kebebasan bagi murid untuk memilih tantangan belajarnya, dari tingkat, bentuk, hingga cara.

“Di Cikal Amri Setu, Memilih Tantangan dalam pembelajaran agama berarti memberikan ruang kepada murid untuk memilih tingkat, bentuk, dan cara belajar yang sesuai dengan minat, kesiapan, serta profil belajarnya. Murid tidak selalu harus menghadapi tantangan yang sama dengan cara yang sama.”

Peranan guru agama di Sekolah Cikal Amri Setu dalam hal ini menyediakan beragam pilihan tantangan, baik itu melakukan praktik, membuat karya, menganalisis suatu konteks, hingga melakukan refleks dari situasi yang kompleksi, sehingga murid akan mampu memahami konsep belajar dari materi agama yang sedang dipelajari sesuai dengan 

“Guru dapat menyediakan beragam pilihan tantangan, mulai dari memahami konsep, melakukan praktik, membuat karya, melakukan refleksi, hingga menerapkan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, murid dapat mengambil tantangan yang cukup menantang tetapi tetap sesuai dengan kemampuannya. Pilihan tantangan juga dapat berkembang sesuai usia dan kesiapan murid.” jelasnya.

Ilustrasi Contoh Penerapan Cara Memilih Tantangan

Murid pada tahap awal dapat memilih tantangan untuk mengenal dan mempraktikkan nilai atau ajaran agama, sementara murid yang lebih siap dapat memilih tantangan untuk menganalisis, merefleksikan, atau menerapkannya dalam situasi nyata yang lebih kompleks.

Dengan demikian, pembelajaran agama memberikan ruang bagi murid untuk berkembang melalui pilihan yang personal, sekaligus mendorong mereka keluar dari zona nyaman dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Baca Juga :  7 Potret Keikutsertaan Murid SMA Cikal Amri Setu di Kompetisi MUN Tingkat Jabodetabek hingga Internasional! 




  1. Memberdayakan Konteks dalam Belajar Agama di Sekolah Cikal Amri Setu


Cara keempat dalam proses belajar-mengajar agama di Sekolah Cikal Amri Setu adalah dengan Memberdayakan Konteks (Community Context). Artinya, proses belajar agama akan  memanfaatkan lingkungan sekitar dan pengalaman nyata sebagai bagian dari proses belajar.

“Di Cikal Amri Setu, memberdayakan konteks dalam pembelajaran agama berarti menghubungkan pembelajaran dengan lingkungan sekitar, kehidupan sehari-hari, dan pengalaman nyata murid, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga sebagai nilai yang hadir dalam kehidupan.” jelasnya.

Langkah-langkah dalam memberdayakan konteks juga dalam hal ini dipetakan oleh pendidik di Sekolah Cikal Amri Setu agar dapat memahami fase pemahaman masing-masing murid. Pemberdayaan konteks dimulai dari mengamati, mengalami, hingga merespons persoalan yang terjadi.

“Murid diajak untuk mengamati, mengalami, dan merespons persoalan nyata di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat melalui perspektif nilai-nilai agama. Misalnya, pembelajaran tentang kepedulian dapat diwujudkan melalui kegiatan berbagi, menjaga lingkungan, membantu sesama, atau melakukan aksi sosial di komunitas.” ucapnya. 

Ilustrasi Contoh Penerapan Cara Memberdayakan Konteks

Konteks dalam pembelajaran agama  dapat berasal dari pengalaman dan keberagaman yang ditemui murid sehari-hari. Murid dapat merefleksikan bagaimana nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian, toleransi, dan menghargai sesama diterapkan dalam interaksi dengan teman, keluarga, maupun masyarakat.

Dengan demikian, pembelajaran agama bergerak dari kelas menuju lingkungan, dilanjutkan dengan pengalamannyata, dan diakhiri dengan refleksi, sehingga murid dapat melihat relevansi ajaran agamanya dengan kehidupan dan belajar mengambil peran positif di komunitas.

Baca Juga : Sungai Sastra, Klub Sastra dan Penulisan Kreatif di SMP dan SMA Cikal Amri Setu




  1. Membangun Keberlanjutan dalam Belajar Agama di Sekolah Cikal Amri Setu

Cara terakhir atau cara kelima yang diterapkan oleh Sekolah Cikal Amri Setu dalam belajar-mengajar agama di sekolah adalah membangun keberlanjutan (Constructive Continuity). 

Di Cikal Amri Setu, Mansur menjelaskan bahwa belajar agama dengan cara membangun keberlanjutan bermakna memastikan pembelajaran tidak berdiri sendiri di setiap jenjangnya, melainkan semakin melengkapi pemahaman anak dan mendorong penerapannya lebih signifikan dalam keseharian murid.

Membangun keberlanjutan dalam pembelajaran agama berarti memastikan pembelajaran tidak berdiri sendiri di setiap jenjang, tetapi saling terhubung dan berkembang sesuai usia, kebutuhan, serta pengalaman belajar murid. Konsep yang telah dipelajari sebelumnya menjadi fondasi untuk pembelajaran berikutnya. Murid tidak hanya mengulang materi yang sama, tetapi memperdalam pemahaman dan meningkatkan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam konteks yang semakin kompleks.” jelasnya.

Ilustrasi Contoh Penerapan Cara Membangun Keberlanjutan

Membangun keberlanjutan di Sekolah Cikal Amri Setu juga diterapkan melalui pembiasaan dan pengalaman sehari-hari di sekolah.

Misalnya, nilai kejujuran yang dikenalkan pada jenjang awal terus dikembangkan melalui situasi yang lebih kompleks di jenjang berikutnya, seperti integritas akademik, penggunaan media sosial, hingga pengambilan keputusan.

Dengan demikian, pembelajaran agama bergerak dari mengenal, memahami, membiasakan, menerapkan, dan merefleksikan, sehingga nilai-nilai agama diharapkan terus berkembang menjadi bagian dari karakter murid.(*)

Baca Juga :Cikal Amri Cup 2025, Turnamen Olahraga, Seni, dan Pengetahuan ke-9, Inisiasi STUCO Cikal Amri Setu 




Informasi Cikal Support Center


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs 




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Mansur Solichan, Pendidik Agama di Sekolah Cikal Amri Setu

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana

I'M INTERESTED