Mengenal Nara, Murid Kelas 6 Sekolah Cikal yang Terbitkan Buku Pengelolaan Limbah

Jakarta, Sekolah Cikal. Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan masih menjadi tantangan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak dari masyarakat yang seringkali sengaja membuang sampah atau limbah di sungai bahkan di laut.

Kondisi tersebut mendorong keprihatinan Kinasih Bendari Ardhiona Rajni, yang biasa dipanggil Nara. Ia merupakan murid kelas 6 Sekolah Cikal Cilandak yang berani menyuarakan rasa pedulinya terhadap keberlangsungan dan keselamatan Bumi melalui bukunya berjudul “Waste Management atau Pengelolaan Limbah”.


(Nara, Murid kelas 6 Sekolah Cikal Cilandak, dan Buku karyanya “Waste Management”. Doc. Sekolah Cikal)

Sejak kecil Lekat dengan Alam

Menurut Stephanie Arum Sekarati, atau yang lebih dikenal dengan Ibu Arum, Ibu dari Nara, ketertarikan Nara pada isu lingkungan hidup dan keselamatan Bumi dimulai dari kebiasaannya berpetualang di alam bebas, baik hutan, atau pun pegunungan untuk melakukan kegiatan Camping dan Tracking bersama keluarga.


“Kami sekeluarga pada dasarnya senang sekali melakukan petualangan. Saya senang membawa anak-anak berpetualang, baik Camping maupun Tracking. Dari kegiatan tersebut, saya dapat perlahan-lahan mengenalkan Nara dan Adiknya mengenai flora, fauna, dan tentunya mengenai lingkungan hidup .” tuturnya saat dihubungi oleh Humas Sekolah Cikal pada (11/8)


Kebiasaan menjelajah alam yang dialami Nara ini lambat laun menumbuhkan rasa peduli dalam dirinya terhadap lingkungan hidup. Setiap kali melihat lingkungan yang penuh dengan sampah atau limbah, Ia pun seringkali menunjukkan antusiasmenya untuk melakukan aksi bagi kelestarian bumi bersama teman-temannya di Sekolah dengan menggunakan istilah “Waste Rangers”.


Karya Nara, Mewakili Suara Bumi

Ketika ditanyakan mengenai alasannya membuat buku yang terdiri atas 77 halaman tentang Pengelolaan Limbah (Waste Management), Nara menyampaikan bahwa pembuatan proyek buku ini pada dasarnya merupakan proyek akhir yang dilakukan dengan melalui serangkaian penelitian saat di kelas 5.

Selain itu, Nara juga menambahkan bahwa keinginannya membuat buku juga sebagai bentuk keprihatinannya dengan kondisi lingkungan hidup baik di sungai, maupun di laut yang masih seringkali dipenuhi sampah dan limbah.

“Aku membuat buku ini untuk proyek akhir sekolah kelas 5. Selain itu, aku membuat buku ini juga karena aku masih melihat banyak sampah dimana-mana.” tutur Nara yang senang menulis dan memiliki hobi Gymnastic di waktu luangnya.

(Buku Waste Management, Karya Nara)

Dalam bukunya, Nara menuliskan dan memberikan ilustrasi mengenai konsep pengelolaan limbah dari rumah, dan cara-cara menyelamatkan bumi dengan tindakan sehari-hari secara sederhana dari kacamata anak berusia 11 tahun. karya Nara juga memiliki makna mendalam yakni mewakili suara Bumi untuk menyampaikan pesan untuk menjaga kelestarian bumi pada umat manusia.


Menurut Ma’ruf Solihin atau yang dikenal dengan Bapak Ma’ruf, selaku mentor proyek Nara, apa yang dilakukan oleh Nara merupakan bentuk aksi nyata yang dilakukan sesuai minat dan bakat murid di Sekolah untuk menyampaikan informasi dan inspirasi ke berbagai komunitas agar lebih menyadari setiap perbuatan yang terkait langsung pada lingkungan hidup.


“Setiap murid memiliki minat dan bakat yang unik. Sekolah Cikal dalam hal ini memberikan ruang untuk mendorong minat dan bakat murid terasah dan membuat sebuah karya atau aksi yang bermakna bagi Bumi. Saya sangat mengapresiasi apa yang sudah Nara buat, mengingat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan masih perlu dibina. Nara dalam hal ini telah berhasil memberikan kontribusi untuk turut menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup melalui buku.” ucap saat dihubungi pada (10/8)

Kita Hanya Punya Satu Bumi

Aksi nyata Nara melalui karyanya telah berhasil memperoleh apresiasi dari berbagai kalangan, baik dari komunitas Sekolah Cikal, Organisasi Non-Profit Climate Reality Indonesia hingga masyarakat umum.

Bagi Nara, manusia hanya memiliki satu bumi, oleh karena itu penting bagi teman-teman seusianya dan masyarakat luas untuk menyelamatkan bumi dimulai dari hal-hal yang sederhana yang dapat dilakukan dari rumah. “Kita hanya memiliki satu bumi, jadi penting bagi kita untuk melakukan hal-hal kecil yang bermakna untuk menyelamatkannya.” ujarnya saat dihubungi oleh Humas Cikal (11/8)

Sebagai orang tua, Ibu Arum menyampaikan harapan terbesarnya bagi Nara untuk tumbuh menjadi manusia yang peduli dan berkontribusi bagi kelestarian lingkungan hidup.

“Saya meyakini bahwa kita sebagai manusia pada dasarnya hidup untuk menjaga bumi ini. Saya berharap Nara dapat tumbuh dewasa kelak menjadi manusia yang apa adanya, tapi selalu ingat dengan lingkungan dan memberikan kontribusi baik berdampak pada lingkungan hidup di sekitarnya.” tutup Ibu Arum.

Semangat selalu untuk melanjutkan aksi hebatmu bagi Bumi ya, Nara! (sfa)

ENROLL NOW