Terpilih Jadi Anggota Badan Akreditasi Nasional, Inilah 5 Pandangan Bermakna Tari Sandjojo, Head of School Sekolah Cikal, Tentang Pendidikan dan Pengembangan Diri Anak

Tari Sandjojo, Head of School Sekolah Cikal, Terpilih Jadi Anggota Badan Akreditasi Nasional

Durasi Waktu Baca : 5 Menit



Jakarta, Sekolah Cikal.Mendedikasikan diri sebagai pendidik di bidang pendidikan dan anak-anak sejak menyelesaikan studinya di bidang Ilmu Psikologi Universitas Indonesia, Head of School Cikal, Tari Sandjojo M.Psi, Psikolog pada (14/6) secara resmi terpilih menjadi anggota Badan Akreditasi Nasional Pendidikan (National Accreditation Board For School and Madrasah) Indonesia yang akan memberikan kontribusi dalam evaluasi pendidikan, kurikulum, dan manajemen pendidikan di Indonesia. 


Tari yang juga turut membangun Sekolah Cikal sebagai sekolah berbasis kompetensi di Indonesia bersama dengan Najelaa Shihab dan Dewi Soeharto pada 1999 memegang komitmen dan impian yang tinggi akan harapan memperbaiki pendidikan Indonesia dengan kunci utama “berkolaborasi dengan satu visi yakni memberdayakan generasi masa depan dengan keterampilan yang relevan”. 


(Tari Sandjojo M.Psi, Psikolog, Head of School Cikal, terpilih menjadi anggota Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Indonesia. Dok. Cikal)


Menjadi Head of School Cikal, sebagai komunitas Pelajar Sepanjang Hayat dan Institusi pendidikan terbaik di Indonesia, Tari yang juga merupakan seorang psikolog ini seringkali menyampaikan berbagai gagasan dan refleksi bermaknanya akan pendidikan dan juga pengembangan diri anak secara utuh.  


Apa saja gagasan dan/atau pandangannya akan pendidikan dan pengembangan diri anak sebagai manusia? Simak selengkapnya di bawah ini.




(5 Pandangan Tari Sandjojo, Head of School Cikal, akan Pendidikan dan Pengembangan diri Anak. Dok. Cikal)

  1. Pameran Karya Dorong Anak Menghargai Proses Belajarnya Secara Alami


Memegang peran sebagai Head of School Cikal dan juga Psikolog Anak, Tari mengutarakan pendapatnya akan makna pameran karya sebagai sebuah bentuk asesmen baru bagi pembelajaran anak. Baginya, pameran karya merupakan sebuah sarana untuk menumbuhkan kebiasaan baik atau praktik baik dalam diri anak untuk menghargai proses belajarnya dan keunikan cara belajarnya secara natural atau alami sebagai manusia.


“Jika anak terbiasa menghargai proses dalam mencapai suatu tujuan maka anak yang juga belajar dalam arti sesungguhnya: memahami strategi yang paling tepat untuk dirinya, melihat perkembangan kemampuannya, belajar dari kesalahannya, belajar menghadapi tantangan dan memilih strategi terbaik, dan pada akhirnya menerima keunikan cara belajarnya. Kebiasaan ini juga akan membantu anak untuk menghargai proses yang dialami orang lain dan belajar bekerjasama dengan lebih baik.” ucap Tari.

Baca juga : Najelaa Shihab Raih Penghargaan Tokoh Inspiratif dari Femina Indonesia. Simak 5 Refleksi Terbaiknya Saat Dirikan Cikal!




  1. Personalisasi Gaya dan Warna Rambut, Tidak Mengubah Karakter Individu sebagai Pelajar 


Menjadi seorang praktisi pendidikan dan pengembang kurikulum di Sekolah Cikal, Tari Sandjojo mengungkapkan pandangannya juga akan personalisasi gaya rambut yang diperkenankan di Cikal. Baginya, pembentukan gaya rambut, baik itu diwarnai dan sebagainya, merupakan sebuah hal yang tidak mengubah karakter pelajar. 


(membentuk gaya rambut dengan menyesuaikan kepribadian dan minat untuk mengekspresikan diri juga diperkenankan di Sekolah Cikal. Dok. Sekolah Cikal)


“Salah satu pengembangan personalisasi di Cikal adalah mengenai gaya dan warna rambut. Pada dasarnya, acuan pertimbangan kami adalah penampilan itu tidak mengubah kepribadian atau karakter pembelajar. Anak-anak yang memiliki rambut gondrong atau berwarna akan tetap punya komitmen, mandiri, tetap menjadi  murid Cikal yang punya 14 dimensi, walau gondrong atau cat biru, dengan segala karakter dan perkembangannya dengan situasi atau kebiasaan (habit) yang dibangun Cikal.” jelas Tari. 


Baca juga : 5 Alasan Sekolah Inklusi Dibutuhkan oleh Anak Berkebutuhan Khusus




  1. Bekerjasama dalam Keberagaman Tumbuhkan Kemapanan Emosi, Moral dan Spiritual Anak


Dalam praktiknya menjadi seorang pendidik, Tari Sandjojo seringkali melakukan momen kontemplasi akan pengembangan dirinya sebagai individu dan juga sebagai sosok yang menjalankan peran sebagai pendidik. Baginya, salah satu kompetensi yang penting dan bermakna untuk dapat ditumbuhkan dalam diri anak-anak sejak dini adalah “Bekerjasama dalam keberagaman” untuk menumbuhkan kemapanan emosi, moral dan spiritual anak dan juga berlatih menangani konflik dengan penuh empati dan rasa hormat.


Memahami diri dengan lebih baik membuat saya percaya pada kekuatan kerjasama dalam suatu tim atau kelompok. Tidak ada pekerjaan yang berhasil karena diri saya sendiri dan sebenarnya pembelajaran terbesar bukan pada hasil yang dicapai, tetapi pada proses yang dijalani bersama kelompok. Pengalaman bekerjasama seperti itu juga  dialami oleh murid dalam proses belajar sehari-hari. Kerja kelompok dengan keberagaman anggotanya menjadi bekal murid untuk bisa bekerjasama dengan siapa pun di kemudian hari. Anak-anak bukan hanya belajar berbeda pendapat dan berkonflik, tetapi juga berlatih menanganinya secara empatik dan penuh rasa hormat.” cerita Tari. 


Baca juga : Sekolah Cikal Terapkan Pendidikan Berbasis Kompetensi dan Personalisasi, Lahirkan Pribadi Unggul dengan Keunikannya Hadapi Persaingan Masa Depan





  1. Playground of Cikal, Selebrasi Pembelajaran Anak atas Segala Proses, Capaian, dan Refleksi Pengembangan Diri Anak


Mengapresiasi proses belajar anak dengan segala capaiannya bagi Tari dapat dilakukan dengan memberikan dukungan serta ruang bagi anak untuk mengasah keterampilan belajar dan  minatnya melalui Performing Art seperti Playground of Cikal yang setiap tahunnya menghadirkan tema yang beragam setiap tahunnya, misalnya Playground of Bali,Playground of Mataram, Playground of Ujung Pandang dan masih banyak lagi. 


Playground of Cikal di Sekolah Cikal selalu istimewa dibanding pertunjukkan sekolah pada umumnya adalah bahwa kegiatan ini bukan sekedar menampilkan pertunjukkan tapi juga proses belajar yang terjadi selama satu tahun ajaran. Kemasannya memang sebagian besar disajikan dalam bentuk performing art, tapi sebenarnya konten dari pertunjukkan mewakili keterampilan belajar anak dan pemahaman mengenai seni dan budaya area khusus yang memang dijadikan fokus di tahun ajaran tersebut.” ungkap Tari. 


(Cuplikan momen Playground of Mataram 2023 Sekolah Cikal. Dok. Cikal)


Arti selebrasi pembelajaran bagi Tari juga bukan hanya perayaan semata tentang pembelajaran anak, melainkan membangun keberlanjutan pembelajaran dan pengembangan diri anak.


“Arti selebrasi dalam Playground of Cikal secara umum itu sebenarnya tidak hanya sekadar selebrasi, melainkan juga terdapat refleksi dari setiap proses belajar anak selama ini, sehingga ada momen selebrasi dan ada refleksi. Kalau dihubungkan dengan cara Cikal, selebrasi ini mengarah ke Membangun Keberlanjutan (Constructive Continuity). Jadi, merefleksikan tahapan apa yang saya telah lalui, dan alami.” jelas Tari.


Baca juga : THE PLAYGROUND OF CIKAL : SEJARAH DAN MAKNA PLAYGROUND OF CIKAL




  1. Kebiasaan Beprinsip Dorong Anak Hilangkan Asumsi dan Memperlakukan Makhluk Hidup Lainnya dengan Lebih Baik.


Dalam upaya membangun kemapanan Emosi, Moral dan Spiritual dalam diri anak di ekosistem pendidikan, bagi Tari, salah satu kompetensi terpenting yang dapat ditumbuhkan dengan acuan Kompetensi 5 Bintang Cikal sebagai cita-cita utama Cikal sebagai institusi pendidikan berbasis kompetensi adalah, menumbuhkan karakter berprinsip pada anak. 


 “Untuk bisa membangun toleransi tanpa kehilangan identitas diri pada anak itu tidak bisa dengan cara lain kecuali memastikan keberagaman dalam suatu komunitas. Secara bawah sadar, keberagaman ini akan terus menerus melatih kepekaan anggota komunitas termasuk pada anak sejak dini untuk bisa memahami, menghormati, serta menyepakati benar atau salah dalam konteks etika dan dampaknya bagi kepentingan yang lebih luas.” ujarnya. 


Ia juga menambahkan bahwa sejatinya dengan menumbuhkan kompetensi anak berprinsip, anak akan tumbuh menjadi manusia yang dapat menghilangkan asumsi dan memperlakukan makhluk hidup lainnya dengan lebih baik. 


Pandangan dan gagasan Tari Sandjojo, Head of School Cikal, sejatinya masih banyak lagi. Namun, dari lima pandangan beliau di atas tentu telah mewakili betapa kuat komitmen beliau untuk menghadirkan perbaikan ekosistem pendidikan di Indonesia untuk semakin mengakomodasi anak-anak sebagai subyek pendidikan. Selamat menjalankan peran sebagai anggota Badan Akreditasi Nasional Indonesia, Ibu Tari Sandjojo, Cikal bangga kepada, Ibu Tari! (*)





Informasi Customer Service Cikal 


Tanyakan informasi mengenai pendaftaran, program hingga kurikulum Cikal melalui Whatsapp berikut : https://bit.ly/cikalcs (tim Customer Service Cikal)




Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Tim Digital Cikal 

  • Narasumber : Tari Sandjojo M.Psi, Psikolog, Head of School Cikal 

  • Editor : Layla Ali Umar 

  • Penulis : Salsabila Fitriana


I'M INTERESTED